Perkenalkan saya Adhi, sebelumnya saya pernah membagikan kisah mistis saat mendaki Gn Merbabu. Kali ini saya coba berbagi cerita saat mendaki Gunung Sindoro yang terletak di kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah.
Kisah ini terjadi saat ketiga kalinya saya mendaki gunung Sindoro Tepatnya 14 tahun yg lalu, suasana pendakian di tahun2 tersebut tentu jauh berbeda dari suasana tahun2 belakangan ini.
Di pendakian Sindoro yg ketiga ini saya membawa cukup banyak teman, jumlah kami 10 orang termasuk saya. Sastro dan Joko dari kisah sebelumnya juga berangkat. Ada 3 mahasiswi Mapala yg ikut saat itu. Salah satunya sebut saja Lesti.
.
.
Kami berangkat pagi hari dari Semarang menumpang bus jurusan Magelang dan di lanjut lagi dengan jurusan Wonosobo turun di Desa Kledung.
Seperti biasa, setibanya di Basecamp Kledung kami melakukan pendaftaran, persiapan dan ISOMA. Kami baru berangkat mendaki setelah sholat Maghrib.
.
.
Dari basecamp ke POS 1 memakan waktu cukup lama hampir 1 jam jalan kaki. Saya berjalan paling belakang mengawal rombongan ditemani Lesti dan Ani, yg juga mahasiswi anggota Mapala. Melewati perkebunan warga, Lesti dan Ani berjalan mendahului saya. Pandangan saya menatap sosok laki2 tua dipinggir kebun tampak sedang beres2.
Saya pun menyapa "Nuwun sewu (permisi) pak, malam2 masih dikebun?"
.
.
Si bapak menengok ke arah saya , "Oalah ini mas, baru selesai beres2 bentar lagi pulang, mau naik ya mas? yowis, hati2 yaa..permisi.." Si bapak pamit sambil melayakan senter.
"Monggo pak" jawab saya.
.
.
Sastro tiba2 mendekati saya, "Monggo apa, Dhi? Ngomong sama siapa?" tanya Sastro. Saya menengok kebelakang, bapak yang tadi sudah tidak ada. Cepat sekali jalannya, pikir saya. "Oh, ngga apa2. Nanti aja, yok ah!" ajak saya. Sepertinya bapak yang tadi...ah sudahlah, pikir saya.
.
.
Singkat cerita, kami tiba di Pos 1 dan lanjut ke Pos 2. Track dari Pos 1 ke Pos 2 cukup berkelok-kelok, didonimasi dengan tanah landai dan bebatuan yang cukup besar. Sampai di Pos 2 kami berhenti sambil minum sebentar. Saya duduk selonjor, tas saya lepas dan saya taruh di samping.
Setelah beberapa saat, "Ayo Dhi, lanjut!" ajak teman saya.
.
.
.
Saya mengangguk, meraih tas carrier dan melanjutkan perjalanan. Saya melihat Lesti berjalan pelan dan ngos-ngosan, lalu saya putuskan untuk menemaninya berjalan, khawatir kalau terjadi apa2. Dari Pos 2 kami lanjut ke Pos 3.
Saya mulai merasa agak kepayahan disini, punggung terasa pegal sekali seperti tas carrier saya jadi berat 3x lipat sampai saya berjalan agak membungkuk. Rombongan sudah beberapa meter di depan saya, posisi saya dibelakang sendiri.
Lalu dari depan salah seorang teman saya memanggil "Woi, lama amat Dhi!" "Udah kalian jalan aja dulu, aku nemenin Lesti nih!" jawabku, padahal alasannya juga karena tas carrier saya tiba2 menjadi tambah berat. "Oke, ketemu di tempat biasa yo!" "Yoi" jawab saya. Tempat itu adalah tempat biasa kami mendirikan tenda di Pos 3. "Lah..Mas Adhi juga ngos2an gitu, berenti bentar gimana mas?" tanya Lesti sesaat setelah rombongan kami mendahului ke depan.
Saya mengangguk, lalu melepas tas carrier saya, lalu saya coba angkat lagi. "Lah? Kok jadi biasa lagi beratnya?" bathin saya. Saya angkat2 tas carrier ini dengan tangan seperti sedang latihan barbel.. biasa beratnya, kayak pertama berangkat tadi...
Saya pakai kembali tas carrier itu, tiba2 menjadi tambah berat lagi. Seperti ketambahan muatan. "Ada yg ngga beres" pikir saya. "Kenapa mas tasnya?" tanya Lesti.
Karena tidak mau membuat si Lesti ini panik atau jadi ikut mikir yang engga2, saya menggeleng dan ajak dia ngobrol santai.
Track yang menanjak, berbatu, tas carrier yang tiba2 tambah berat, ditambah ngawal si Lesti membuat punggung saya linu. "Hmm..kayak ada yang nempel di punggung. Tolong jangan ganggu, kami ngga macem2 deh." bathin saya. Kalo orang Jawa bilang "nyambat", numpang2 sama yang "nunggu: gunung ini. Tapi tetap saja, punggung saya seperti "ditempeli" sesuatu yang berat.
Rombongan kami sampai sudah tidak terlihat lagi, cuma ada saya, Lesti dan nyala senter kami.
.
Sesampainya di Pos 3, saya melihat teman saya Joko dan Sastro lesehan di depan tenda.
"Eh pak, lama amat, encok ya?" goda si Joko.
"Gundhulmu" jawabku.
Saya lalu bertanya ke Lesti,
"Les, jangan tersinggung yo. Aku mau nanya, maaf2 yo, kamu sedang halangan, ndak?"..
.
.
Lesti tampak kaget.
"Ngga lah mas, mana berani aku lagi halangan naik gunung" jawabnya.
"Lha napa to mas?" tanyanya.
Aku jawab, "Ya ndak, kok keliatannya kamu lemes banget tadi" "Oh..aku emang agak capek mas, sebelum berangkat kan ngejar deadline tugas2 di kampus" "Oalah" jawabku sambil mengangguk.
Padahal sebenarnya, saya tanya karena penasaran, kenapa saya "diganggu" dengan tas carrier yg tiba2 jadi berat sekali saat mendaki tadi.
Saya memasak air dgn kompor gas mini portable milik Lesti untuk nyeduh kopi dan masak mie instan.
Sambil menunggu air matang, saya lepas sepatu, duduk selonjor sambil merokok. Sebatang habis, saya perhatian air mulai mendidih, saya ambil gelas yg sudah saya isi kopi, lalu saya tuangkan air dari panci itu.
Tiba2, air yang mendidih tadi berubah dingin begitu masuk ke gelas. Bukan dingin seperti es tp dingin seperti air itu tidak pernah dimasak!. "Kok aneh?" bathin saya. Saya celupkan jari ke gelas, benar adem airnya! Padahal tadi mendidih!. Saya menengok dan memperhatikan sekitar, teman2 sudah masuk ke tenda2 mereka, cuma saya sendiri di luar.
"Jangan panik...jangan panik.." bathin saya, saya nyalakan rokok lagi sambil jalan mondar-mandir di depan tenda. Sastro dan Joko teman saya keluar, "Ngapain, Dhi? udah mateng airnya?" Saya jawab , "Belum. bentar lagi..". Lalu Joko bertanya "Ada yg aneh?" . Saya menggeleng karena tidak mau membuat panik
"Aku 1, Sastro 1 trus nambah 2 buat yang lain yoo.. sisanya udah makan biskuit sama roti", disini maksudnya dia mau nitip bikin mie instan. "Woo.. penak men uripmu cah.. masak dewe! Lhapo warung.. (woo enak banget kamu, masak sendiri! Kamu kira warung)" omel saya, Joko cuma cengengesan.
Lalu dia main kartu sambil ditemani anak2 lain yang ikut keluar tenda. Saya nyalakan kompor lagi. Beberapa saat air itu mendidih, saya angkat panci, lalu iseng saya celupkan ujung kuku saya ke dalam air, adem airnya! padahal beneran mendidih tadi, sumpah! Wah..ngga beres ini! gumam saya. Saya coba taruh panci itu di atas kompor, mendidih lagi, saat saya celupkan jari saya lagi, adem airnya!
.
Karena jengkel dan perut lapar, saya menggerutu, "nganggu bener! udah numpang2 kan tadi, capek ni ah!"
.
.
Lalu.. Ngga lama, sekitar beberapa meter dari tempat saya masak, muncul sosok perempuan dari balik rimbunan pohon. Pake putih2, rambut panjang awut-awutan?? Tidak. Perempuan biasa, pake jaket, topi kupluk, sepatu, pokoknya atribut pendaki dan jelas sekali sosoknya sampai saya bisa melihat merk kupluk yang dia pake, merk E.
Dia memandangi saya, saya pandangi dia, kita pandang2an. Romantis? Nggak! karena ni cewek tanpa ekspresi muka, wajahnya putih pucat dan mari pakai logika, dia tiba2 muncul dari balik pohon dan tenda pendaki lain ada kurang lebih 10 meter dari kami. "Aduh sial, mulai lagi nih" bathin saya. Yg saya maksud "mulai" ini adl mulai lagi ketemu yg mistis2. Oh iya, intermezzo sebentar, saya termasuk orang sensitif dengan yg gaib2. Saya sering melihat sosok "mereka" namun tidak bisa dibilang saya indigo. Ayah saya dan adek2 saya juga seperti ini. Apa ini semacam keturunan? Wallahu a'lam, mungkin ada mwvers yg bernasib sama.
Saya usap muka saya, lalu saya lihat lagi sosok itu masih ada dan melihat ke saya! Lalu tiba2, sosok itu melotot sambil tersenyum menyeringai. Coba bayangkan, melotot tp meringis, menyeringai!.
"Astagfirullah!" Kaget dan refleks saya lempar sepatu saya ke arah sosok itu, dan..dia menghilang!
Teman-teman yang tadi main kartu diluar tenda menghampiri saya rame2. "Dhi! kenapa woi?" "Asem, digangguin tadi!" ujar saya "Wah meden2i cah iki (wah nakut2in ni anak). Trs setannya udah pergi?" Raut mereka macam2, ada yg tegang, celingak celinguk dan ketakutan.
Saya mengangguk sambil setengah lari saya ambil sepatu yg saya lempar tadi. "Jadi gimana nih? Pindah aja?" tanya Sastro. "Ngga usah, kayaknya cuma aku aja yang diganggu, kalian masuk aja", kataku.
Niat untuk menyeduh kopi dan masak mie instant saya urungkan. Di tenda, saya mulai menceritakan apa yg saya alami dari awal.
Jam menunjukan sekitar jam3 pagi saat saya dan rombongan bangun dan bersiap2 untuk lanjut ke pos IV dan terakhir, puncak. Pemandangan kawah Gn.Sindoro sangat bagus membuat saya sedikit lupa dengan kejadian semalam.
Menjelang tengah hari, saya dan rombongan memutuskan untuk turun. Di jalan, kami berpapasan dengan 4 pendaki asal Jakarta...
.
.
Mereka menyapa kami, lalu salah satu dari mereka bertanya ke saya, Sebut saja dia si A. "Udah pernah kesini sebelumnya, kak?" tanya si A "Sudah 3x ini mas" Jawab saya. Lalu salah satu lagi, sebut saja B bertanya, "Semalam itu ada apa kak? Di gangguin sama makhluk halus ya?" Saya kaget, "Kok kamu tau?" tanya saya. "Kan seberang kakak itu tenda kami, pas kami denger ribut2, saya sempet nguping sih" "Oh iya, saya digangguin dari Pos 2 mas, dari tas tiba2 tambah berat, masak air sampe mendidih begitu dituang mendadak jadi adem, yang terakhir itu liat sosok perempuan mas, kayaknya dulu dia pendaki, pake atribut lengkap" cerita saya.
Lalu, "Boleh kami di ceritain ciri2nya kak?" tanya A.
Sebelum saya bicara, salah satu teman saya memanggil, "Dhi, ayo!" "Kalian duluan saja, nanti aku susul" jawabku. "Oke sip" , lalu rombongan saya berjalan medahului saya.
Jadilah saya berlima dengan rombongan dari Jakarta ini. "Jadi, sosok ini rambutnya lurus panjang, ngga terlalu tinggi, sekitar 160an, pake jaket merah sama topi kupluk warna biru" cerita saya.
Lalu mereka menghentikan langkah, raut mereka sedikit kaget. Si A mengeluarkan dompetnya dan mengambil secarik foto dengan banyak wajah. "Kayak cewek ini kak?" dia menunjuk salah satu wajah disana.
Saya perhatikan betul2. Ah iya! persis ini.
"Lho, kalian kenal?" tanya saya."Dia teman kami kak". Lalu si A menjelaskan.
Rupanya gadis itu adalah temannya, sebut saja C. Dua tahun lalu, dia mendaki Gn. Sindoro bersama rombongan teman2 dari pacarnya. Lalu ada sebuah tragedi. Rupanya, salah seorang gadis yg ikut dalam rombongan, diam2 menyukai pacar si C sebut saja dia si D. Ditengah pendakian, D dan C beradu argumen, lalu D dengan sengaja menyenggol bahu C yg menyebabkan C hilang keseimbangan lalu terjatuh di tanjakan dan kepalanya terantuk batu. Sayangnya, si C meninggal seketika..
.
Lalu jasad C dibawa pulang oleh orang tuanya. Sejak itu pacar si C dan D seolah menghilang, orang tua C pun tidak melanjutkan kasus tsb ke ranah hukum.
Dua tahun setelah kejadian, teman-teman Mapala dari kampus C berinisiatif untuk mendaki Gn.Sindoro dalam rangka mengenang kepergian si C...
.
.
"Rencananya kami ingin meletakkan ini, kak", si A mengeluarkan plat marmer kecil dari carriernya. Bertuliskan In Memoriam... (nama si C). "Bisa minta tolong antar kami ke lokasi tempat pertama kakak merasa punggungnya ditempeli sesuatu yg berat?" tanya A.
Saya mengangguk, walaupun jujur awalnya sulit untuk saya mengerti. Semua serba aneh, serba kebetulan, akal sehat saya susah mencerna keadaan waktu itu.
Kami pun menuruni medan yang cukup licin berbatu, lalu saya menunjuk area dimana saya merasakan seperti "menggendhong" sesuatu. "Disana, mas" tunjuk saya.
Lalu rombangan pemuda tsb berdiskusi dengan suara yg pelan, saya pun kurang bisa mendengar jelas waktu itu.
Lalu, "Terimakasih kak, saya letakkan disini, kami rasa disinilah C dulu meninggal" kata si A. Tampaknya mereka meletakkan plat itu di bawah rerimbunan rumput dan tertutup dengan batu2.
Kemudian saya pamit, menyusul rombongan saya yang mungkin sudah jauh di depan.
Selama perjalanan turun, saya masih bertanya2, apa ini semua kenyataan? namun foto yang ditunjukan si A dengan sosok yang saya lihat sangat mirip.
Saya kurang tahu, saya hanya menceritakan apa yang A ceritakan pada saya saat itu. Bahwa temannya si C meninggal dengan cara seperti itu. Dan kejadian di Pos 3 itupun benar nyata terjadi pada saya, hingga masih saya ingat sampai sekarang.
Pelajaran ini membuat saya lebih berhati-hati lagi saat mendaki. Walaupun sering melihat dan mengalami kejadian mistis, hal itu tidak menyurutkan keinginan saya untuk mendaki lagi.
Salam lestari!
Tamat.
Sumber: @mwv.mystic (IG)
Kisah ini terjadi saat ketiga kalinya saya mendaki gunung Sindoro Tepatnya 14 tahun yg lalu, suasana pendakian di tahun2 tersebut tentu jauh berbeda dari suasana tahun2 belakangan ini.
Di pendakian Sindoro yg ketiga ini saya membawa cukup banyak teman, jumlah kami 10 orang termasuk saya. Sastro dan Joko dari kisah sebelumnya juga berangkat. Ada 3 mahasiswi Mapala yg ikut saat itu. Salah satunya sebut saja Lesti.
.
.
Kami berangkat pagi hari dari Semarang menumpang bus jurusan Magelang dan di lanjut lagi dengan jurusan Wonosobo turun di Desa Kledung.
Seperti biasa, setibanya di Basecamp Kledung kami melakukan pendaftaran, persiapan dan ISOMA. Kami baru berangkat mendaki setelah sholat Maghrib.
.
.
Dari basecamp ke POS 1 memakan waktu cukup lama hampir 1 jam jalan kaki. Saya berjalan paling belakang mengawal rombongan ditemani Lesti dan Ani, yg juga mahasiswi anggota Mapala. Melewati perkebunan warga, Lesti dan Ani berjalan mendahului saya. Pandangan saya menatap sosok laki2 tua dipinggir kebun tampak sedang beres2.
Saya pun menyapa "Nuwun sewu (permisi) pak, malam2 masih dikebun?"
.
.
Si bapak menengok ke arah saya , "Oalah ini mas, baru selesai beres2 bentar lagi pulang, mau naik ya mas? yowis, hati2 yaa..permisi.." Si bapak pamit sambil melayakan senter.
"Monggo pak" jawab saya.
.
.
Sastro tiba2 mendekati saya, "Monggo apa, Dhi? Ngomong sama siapa?" tanya Sastro. Saya menengok kebelakang, bapak yang tadi sudah tidak ada. Cepat sekali jalannya, pikir saya. "Oh, ngga apa2. Nanti aja, yok ah!" ajak saya. Sepertinya bapak yang tadi...ah sudahlah, pikir saya.
.
.
Singkat cerita, kami tiba di Pos 1 dan lanjut ke Pos 2. Track dari Pos 1 ke Pos 2 cukup berkelok-kelok, didonimasi dengan tanah landai dan bebatuan yang cukup besar. Sampai di Pos 2 kami berhenti sambil minum sebentar. Saya duduk selonjor, tas saya lepas dan saya taruh di samping.
Setelah beberapa saat, "Ayo Dhi, lanjut!" ajak teman saya.
.
.
.
Saya mengangguk, meraih tas carrier dan melanjutkan perjalanan. Saya melihat Lesti berjalan pelan dan ngos-ngosan, lalu saya putuskan untuk menemaninya berjalan, khawatir kalau terjadi apa2. Dari Pos 2 kami lanjut ke Pos 3.
Saya mulai merasa agak kepayahan disini, punggung terasa pegal sekali seperti tas carrier saya jadi berat 3x lipat sampai saya berjalan agak membungkuk. Rombongan sudah beberapa meter di depan saya, posisi saya dibelakang sendiri.
Lalu dari depan salah seorang teman saya memanggil "Woi, lama amat Dhi!" "Udah kalian jalan aja dulu, aku nemenin Lesti nih!" jawabku, padahal alasannya juga karena tas carrier saya tiba2 menjadi tambah berat. "Oke, ketemu di tempat biasa yo!" "Yoi" jawab saya. Tempat itu adalah tempat biasa kami mendirikan tenda di Pos 3. "Lah..Mas Adhi juga ngos2an gitu, berenti bentar gimana mas?" tanya Lesti sesaat setelah rombongan kami mendahului ke depan.
Saya mengangguk, lalu melepas tas carrier saya, lalu saya coba angkat lagi. "Lah? Kok jadi biasa lagi beratnya?" bathin saya. Saya angkat2 tas carrier ini dengan tangan seperti sedang latihan barbel.. biasa beratnya, kayak pertama berangkat tadi...
Saya pakai kembali tas carrier itu, tiba2 menjadi tambah berat lagi. Seperti ketambahan muatan. "Ada yg ngga beres" pikir saya. "Kenapa mas tasnya?" tanya Lesti.
Karena tidak mau membuat si Lesti ini panik atau jadi ikut mikir yang engga2, saya menggeleng dan ajak dia ngobrol santai.
Track yang menanjak, berbatu, tas carrier yang tiba2 tambah berat, ditambah ngawal si Lesti membuat punggung saya linu. "Hmm..kayak ada yang nempel di punggung. Tolong jangan ganggu, kami ngga macem2 deh." bathin saya. Kalo orang Jawa bilang "nyambat", numpang2 sama yang "nunggu: gunung ini. Tapi tetap saja, punggung saya seperti "ditempeli" sesuatu yang berat.
Rombongan kami sampai sudah tidak terlihat lagi, cuma ada saya, Lesti dan nyala senter kami.
.
Sesampainya di Pos 3, saya melihat teman saya Joko dan Sastro lesehan di depan tenda.
"Eh pak, lama amat, encok ya?" goda si Joko.
"Gundhulmu" jawabku.
Saya lalu bertanya ke Lesti,
"Les, jangan tersinggung yo. Aku mau nanya, maaf2 yo, kamu sedang halangan, ndak?"..
.
.
Lesti tampak kaget.
"Ngga lah mas, mana berani aku lagi halangan naik gunung" jawabnya.
"Lha napa to mas?" tanyanya.
Aku jawab, "Ya ndak, kok keliatannya kamu lemes banget tadi" "Oh..aku emang agak capek mas, sebelum berangkat kan ngejar deadline tugas2 di kampus" "Oalah" jawabku sambil mengangguk.
Padahal sebenarnya, saya tanya karena penasaran, kenapa saya "diganggu" dengan tas carrier yg tiba2 jadi berat sekali saat mendaki tadi.
Saya memasak air dgn kompor gas mini portable milik Lesti untuk nyeduh kopi dan masak mie instan.
Sambil menunggu air matang, saya lepas sepatu, duduk selonjor sambil merokok. Sebatang habis, saya perhatian air mulai mendidih, saya ambil gelas yg sudah saya isi kopi, lalu saya tuangkan air dari panci itu.
Tiba2, air yang mendidih tadi berubah dingin begitu masuk ke gelas. Bukan dingin seperti es tp dingin seperti air itu tidak pernah dimasak!. "Kok aneh?" bathin saya. Saya celupkan jari ke gelas, benar adem airnya! Padahal tadi mendidih!. Saya menengok dan memperhatikan sekitar, teman2 sudah masuk ke tenda2 mereka, cuma saya sendiri di luar.
"Jangan panik...jangan panik.." bathin saya, saya nyalakan rokok lagi sambil jalan mondar-mandir di depan tenda. Sastro dan Joko teman saya keluar, "Ngapain, Dhi? udah mateng airnya?" Saya jawab , "Belum. bentar lagi..". Lalu Joko bertanya "Ada yg aneh?" . Saya menggeleng karena tidak mau membuat panik
"Aku 1, Sastro 1 trus nambah 2 buat yang lain yoo.. sisanya udah makan biskuit sama roti", disini maksudnya dia mau nitip bikin mie instan. "Woo.. penak men uripmu cah.. masak dewe! Lhapo warung.. (woo enak banget kamu, masak sendiri! Kamu kira warung)" omel saya, Joko cuma cengengesan.
Lalu dia main kartu sambil ditemani anak2 lain yang ikut keluar tenda. Saya nyalakan kompor lagi. Beberapa saat air itu mendidih, saya angkat panci, lalu iseng saya celupkan ujung kuku saya ke dalam air, adem airnya! padahal beneran mendidih tadi, sumpah! Wah..ngga beres ini! gumam saya. Saya coba taruh panci itu di atas kompor, mendidih lagi, saat saya celupkan jari saya lagi, adem airnya!
.
Karena jengkel dan perut lapar, saya menggerutu, "nganggu bener! udah numpang2 kan tadi, capek ni ah!"
.
.
Lalu.. Ngga lama, sekitar beberapa meter dari tempat saya masak, muncul sosok perempuan dari balik rimbunan pohon. Pake putih2, rambut panjang awut-awutan?? Tidak. Perempuan biasa, pake jaket, topi kupluk, sepatu, pokoknya atribut pendaki dan jelas sekali sosoknya sampai saya bisa melihat merk kupluk yang dia pake, merk E.
Dia memandangi saya, saya pandangi dia, kita pandang2an. Romantis? Nggak! karena ni cewek tanpa ekspresi muka, wajahnya putih pucat dan mari pakai logika, dia tiba2 muncul dari balik pohon dan tenda pendaki lain ada kurang lebih 10 meter dari kami. "Aduh sial, mulai lagi nih" bathin saya. Yg saya maksud "mulai" ini adl mulai lagi ketemu yg mistis2. Oh iya, intermezzo sebentar, saya termasuk orang sensitif dengan yg gaib2. Saya sering melihat sosok "mereka" namun tidak bisa dibilang saya indigo. Ayah saya dan adek2 saya juga seperti ini. Apa ini semacam keturunan? Wallahu a'lam, mungkin ada mwvers yg bernasib sama.
Saya usap muka saya, lalu saya lihat lagi sosok itu masih ada dan melihat ke saya! Lalu tiba2, sosok itu melotot sambil tersenyum menyeringai. Coba bayangkan, melotot tp meringis, menyeringai!.
"Astagfirullah!" Kaget dan refleks saya lempar sepatu saya ke arah sosok itu, dan..dia menghilang!
Teman-teman yang tadi main kartu diluar tenda menghampiri saya rame2. "Dhi! kenapa woi?" "Asem, digangguin tadi!" ujar saya "Wah meden2i cah iki (wah nakut2in ni anak). Trs setannya udah pergi?" Raut mereka macam2, ada yg tegang, celingak celinguk dan ketakutan.
Saya mengangguk sambil setengah lari saya ambil sepatu yg saya lempar tadi. "Jadi gimana nih? Pindah aja?" tanya Sastro. "Ngga usah, kayaknya cuma aku aja yang diganggu, kalian masuk aja", kataku.
Niat untuk menyeduh kopi dan masak mie instant saya urungkan. Di tenda, saya mulai menceritakan apa yg saya alami dari awal.
Jam menunjukan sekitar jam3 pagi saat saya dan rombongan bangun dan bersiap2 untuk lanjut ke pos IV dan terakhir, puncak. Pemandangan kawah Gn.Sindoro sangat bagus membuat saya sedikit lupa dengan kejadian semalam.
Menjelang tengah hari, saya dan rombongan memutuskan untuk turun. Di jalan, kami berpapasan dengan 4 pendaki asal Jakarta...
.
.
Mereka menyapa kami, lalu salah satu dari mereka bertanya ke saya, Sebut saja dia si A. "Udah pernah kesini sebelumnya, kak?" tanya si A "Sudah 3x ini mas" Jawab saya. Lalu salah satu lagi, sebut saja B bertanya, "Semalam itu ada apa kak? Di gangguin sama makhluk halus ya?" Saya kaget, "Kok kamu tau?" tanya saya. "Kan seberang kakak itu tenda kami, pas kami denger ribut2, saya sempet nguping sih" "Oh iya, saya digangguin dari Pos 2 mas, dari tas tiba2 tambah berat, masak air sampe mendidih begitu dituang mendadak jadi adem, yang terakhir itu liat sosok perempuan mas, kayaknya dulu dia pendaki, pake atribut lengkap" cerita saya.
Lalu, "Boleh kami di ceritain ciri2nya kak?" tanya A.
Sebelum saya bicara, salah satu teman saya memanggil, "Dhi, ayo!" "Kalian duluan saja, nanti aku susul" jawabku. "Oke sip" , lalu rombongan saya berjalan medahului saya.
Jadilah saya berlima dengan rombongan dari Jakarta ini. "Jadi, sosok ini rambutnya lurus panjang, ngga terlalu tinggi, sekitar 160an, pake jaket merah sama topi kupluk warna biru" cerita saya.
Lalu mereka menghentikan langkah, raut mereka sedikit kaget. Si A mengeluarkan dompetnya dan mengambil secarik foto dengan banyak wajah. "Kayak cewek ini kak?" dia menunjuk salah satu wajah disana.
Saya perhatikan betul2. Ah iya! persis ini.
"Lho, kalian kenal?" tanya saya."Dia teman kami kak". Lalu si A menjelaskan.
Rupanya gadis itu adalah temannya, sebut saja C. Dua tahun lalu, dia mendaki Gn. Sindoro bersama rombongan teman2 dari pacarnya. Lalu ada sebuah tragedi. Rupanya, salah seorang gadis yg ikut dalam rombongan, diam2 menyukai pacar si C sebut saja dia si D. Ditengah pendakian, D dan C beradu argumen, lalu D dengan sengaja menyenggol bahu C yg menyebabkan C hilang keseimbangan lalu terjatuh di tanjakan dan kepalanya terantuk batu. Sayangnya, si C meninggal seketika..
.
Lalu jasad C dibawa pulang oleh orang tuanya. Sejak itu pacar si C dan D seolah menghilang, orang tua C pun tidak melanjutkan kasus tsb ke ranah hukum.
Dua tahun setelah kejadian, teman-teman Mapala dari kampus C berinisiatif untuk mendaki Gn.Sindoro dalam rangka mengenang kepergian si C...
.
.
"Rencananya kami ingin meletakkan ini, kak", si A mengeluarkan plat marmer kecil dari carriernya. Bertuliskan In Memoriam... (nama si C). "Bisa minta tolong antar kami ke lokasi tempat pertama kakak merasa punggungnya ditempeli sesuatu yg berat?" tanya A.
Saya mengangguk, walaupun jujur awalnya sulit untuk saya mengerti. Semua serba aneh, serba kebetulan, akal sehat saya susah mencerna keadaan waktu itu.
Kami pun menuruni medan yang cukup licin berbatu, lalu saya menunjuk area dimana saya merasakan seperti "menggendhong" sesuatu. "Disana, mas" tunjuk saya.
Lalu rombangan pemuda tsb berdiskusi dengan suara yg pelan, saya pun kurang bisa mendengar jelas waktu itu.
Lalu, "Terimakasih kak, saya letakkan disini, kami rasa disinilah C dulu meninggal" kata si A. Tampaknya mereka meletakkan plat itu di bawah rerimbunan rumput dan tertutup dengan batu2.
Kemudian saya pamit, menyusul rombongan saya yang mungkin sudah jauh di depan.
Selama perjalanan turun, saya masih bertanya2, apa ini semua kenyataan? namun foto yang ditunjukan si A dengan sosok yang saya lihat sangat mirip.
Saya kurang tahu, saya hanya menceritakan apa yang A ceritakan pada saya saat itu. Bahwa temannya si C meninggal dengan cara seperti itu. Dan kejadian di Pos 3 itupun benar nyata terjadi pada saya, hingga masih saya ingat sampai sekarang.
Pelajaran ini membuat saya lebih berhati-hati lagi saat mendaki. Walaupun sering melihat dan mengalami kejadian mistis, hal itu tidak menyurutkan keinginan saya untuk mendaki lagi.
Salam lestari!
Tamat.
Sumber: @mwv.mystic (IG)

EmoticonEmoticon