Postingan ini merupakan cerita misteri nyata dari seseorang yang dikirim ke @mwv.mystic (IG). Narasumber tidak disebutkan karena meminta identitasnya dirahasiakan.
Sebut nama saya Adhi.
Ini pengalaman saya sudah sangat lama sebenarnya, sekitar masa2 kuliah tahun 2000an, saat mendaki gunung Merbabu.
Saya bagian dari Mapala, beberapa gunung terutama di Jawa Tengah pernah saya daki. Masing-masing punya pengalaman mistis sendiri2 namun ada satu yg sampai sekarang masih membekas.
.
.
Saya bercerita sambil mencoba mengingat detail-detail dan ciri2 lokasi dikarenakan pengalaman itu sudah belasan tahun lamanya namun kejadian inti masih cukup bikin ngeri kalau diingat2.
.
.
Berangkat dari Semarang, Jumat malam naik bus bersama 2 orang teman saya sebut saja Sastro dan Joko
Di perjalanan, bus yang saya tumpangi sempat ngetem, tidak jauh dari tempat ngetem ada warung sederhana yg juga menjual "angetan". Disini yg saya maksud bukan wedang jahe atau kopi panas, namun adalah minuman beralkohol dgn harga yg murah. Saya sempatkan membeli anggur putih, bukan white wine seperti di resto2 mahal, semacam minuman produksi lokal di daerah tersebut (maaf, saya tidak menyarankan hal ini dilakukan oleh pembaca, namun begitulah kejadian saat itu).
.
.
Bus berhenti di Selo, Boyolali. Jalur pendakian Merbabu yg cukup favorit karena tingkat kesukaran medium. Kami berempat berjalan menuju basecamp/posko pendakian. Setelah mendaftar, kami berempat memutuskan untuk menginap di camping ground dan baru mendaki di Sabtu pagi.
.
.
Singkat cerita, kami bertiga ketiduran hingga agak siang. Sekitar jam 11 kita baru berangkat mendaki. Awal pendakian sangat menyenangkan, walaupun beberapa kali bertemu dengan medan terjal, melewati Sabana , padang rumput dengan pemandangan yg indah.
Disini kami beristirahat cukup lama karena asyik menikmati pemandangan disekitar. Mendekati sore, kami mempercepat langkah karena kami ingin melihat pemandangan matahari tenggelam dari puncak.
Singkatnya, kami sampai di puncak Merbabu. Sayangnya kabut putih turun hingga pemandangan sunset tidak terlihat.
Karena sedikit mendung, dipuncak cuma kita habiskan untuk duduk2 dan berfoto.
Niat untuk mendirikan tenda di puncak kami urungkan karena kami berfirasat kurang bagus dengan cuaca saat itu.
Kami memutuskan untuk turun saat itu juga, mengambil jalur ke arah Kopeng.
Lalu..
Karena kabut cukup tebal ,jalan yang kami tapaki juga terjal dan hari sudah petang, entah mengapa firasat saya tidak enak dan agak kelimpungan saat itu.
Di depan kami ada jalur dua arah. Saya yakin jalan yang arah kanan adalah jalur ke arah Kopeng. Namun teman saya Joko justru berjalan mendahului rombongan dan memilih jalur arah kiri. Saat kami teriaki, dengan bersikukuh bilang, kami harus melewati jalan tersebut utk menuju Kopeng.
Akhirnya terpaksa kami mengikuti Joko. Jalur tersebut termasuk biasa , tidak terlalu terjal, kami mencoba menyusuri jalan tersebut namun tidak kunjung menemui jalur turun untuk arah kembali. Sedangkan nyala senter dari pendaki lain semakin jauh hingga menyerupai titik kunang2. Hingga waktu hampir tengah malam kami sadar, kami tersesat!!
.
.
.
.
Karena kami sudah sangat lelah pada saat itu, kami memutuskan untuk beristirahat. Pemandangan di depan gelap tertutup kabut. Setelah tenaga sedikit kembali, saya mencoba untuk berjalan2 memperhatikan sekitar sementara teman saya Sastro dan Joko tampak merebahkan badan di tanah.
Dengan nyala senter dan langkah yg pendek2 saya perhatikan sekitaran kami penuh dengan pohon yang rimbun tinggi sehingga menimbulkan kesan angker. Sampai lampu senter saya menyorot sekumpulan kabut yang berterbangan menjorok kebawah. Astaghfirullah! Jurang! Beruntung langkah saya terhenti. Sambil menuju ke arah teman2 saya,
.
.
Saya : woi, ati2! Jebule ono jurang ning kono!
.
.
Sastro : eh, mosok? Lha iki sakjane dewe tekan ngendi sih? Joko semrawut ki! (Eh, masak? Sebenernya kita dimana sih ini? Joko ngga bener nih!)
.
Joko yg tertuduh berusaha membela diri,
. "Ora yo, bener kene, wong aku dicritani jare lewate bener iki kok" (ngga ya, bener disini, orang aku dicritain bener kok lewat sini)
.
"Wuuu! Critone wong kok mbok gugu! Gondhes!" (Wuu, cerita orang kok kamu percaya , dasar b*go!)
Ujar saya kesal.
.
Jam menunjukan angka 2 (pagi). Saya kembali duduk, entah mengapa saya enggan melanjutkan perjalanan.
Saya duduk di gundukan tanah sekitar 2 meter dari Sastro dan Joko yang kembali rebahan...
Hawa sangat dingin, hingga saya memutuskan untuk mengeluarkan "angetan" yang masih sisa sekitar setengah botol. Selesai menenggak beberapa teguk, tiba2..
.
.
Tidak jelas dari mana, sekitar satu meter dadi tempat duduk kami ada seseorang berdiri.
Cirinya tinggi sekitar 160an, berambut cepak dan "krukupan sarung". Sarung yg dipakai sebagai pelindung dari hawa dingin.
.
.
Dia memandang ke arah kami. Saya memanggil2 Sastro dan Joko, "woi! Ono wong iki!"
.
.
Sastro dan Joko pun melihat sosok tersebut.
Namun mereka tidak bergeming dari tempatnya...
.
.
Sosok itu menghampiri saya, sambil agak deg2an, saya perhatikan benar2, sosoknya jelas manusia, tidak terawang.
Saya pikir dia penduduk desa setempat yang sedang mencari kayu atau apalah.
.
.
Dia duduk di dekat saya. Saya sapa, "saking pundi mas?". Dia cuma senyum.
"Rokok purun mas?" (Rokok mau mas?) Saya menawarkan rokok, dia menggeleng.
.
.
Tiba2 entah mengapa, kami seperti kontak bathin. Ngarang? Tidak. Seperti, sosok itu mengajak saya ngobrol hanya saja tidak berbicara dari mulut. Dan anehnya, saya mendengar.. saya sudah menceritakan bagaimana rasanya, sebelumnya saya tidak pernah mengalami hal seperti ini.
Hanya saja dia memandang saya, mulutnya tidak bergerak namun ada suara yg bisa saya dengar
.
.
"Aku seko kono kui mas"
(Aku dari sana mas)
DEG! Dari jurang yang tertutup kabut ini!!
.
.
Tangan saya mulai gemetar pemandangan saya agak kabur, saya tidak tahu apa efek saya ketakutan atau dari "angetan" yg saya tengguk tadi.
Tiba2 sosok itu menghilang dan saya lgsg berlari ke arah sastro dan joko.
"Kowe mau ndeloki rak? Krungu deknen ngomong rak?" Tanya saya sambil gelapan.
Sastro dan Joko menggeleng. "Ngomong opo to? Lha ndi wonge? Entes wae ono to mau ning sebelahmu? Meh tak parani padahal" (ngomong apa sih? Mana orangnya? Tadi di sebelahmu kan? Mau aku samperin kalian) "Ojo2 dhemit, hiiii" (jangan2 hantu, hiii) ujar Joko bergidik.
Lalu dengan sangat jelas..kami bertiga melihat sosok laki2 tadi berdiri di sebelah pohon yang sangat besar.
Sosok itu melambaikan tangan ke kami dan saya menangkap suara yg tidak tau datang dari mana seperti "Mas...lewat sini"
Ujar suara itu..
.
.
Saya dan kedua teman saya masih terpaku dan ragu2 untuk berjalan maju ke depan.
Lalu "Mas, lewat sini"
Suara itu kembali muncul.
Saya dan kedua teman saya memberanikan berjalan menuju sosok itu. "Lewat sini, jangan lewat yang situ"
Sosok itu sambil merentangkan tangan menunjuk sisi kanan pohon.
Saat kamu mendekati dengan langkah pendek2, antara merinding takut dan merinding kedinginan, kami menuju pohon yang daunya sangat rimbun hingga seperti menutupi langit2, membuat pencahayaan semakin gelap, mendekati pohon itu lalu saya menangkap suara lagi, "Lewat saja jangan liat keatas, nanti kamu gak bisa pulang"
Ternyata kedua teman saya juga mendengar. Karena saking penasarannya si Joko sempat melirik keatas dan dalam sekejab dia menahan teriak namun sempat saya dengar lirihannya "Ya Allah! Astaghfirullah!" Sambil trus berjalan maju dan menunduk melewati pohon, lalu.. Suasana cerah menyambut kami saat kami mendongakkan kepala.
Kami melirik kebelakang.
Rerimbunan pohon dengan sedikit kabut.
Kami mendengar sayup suara adzan subuh.
Kami bertiga gemetar mengucap Alhamdulillah.. lalu kami berjalan lurus ke depan.
Sampai bertemu gerombolan pendaki yang sedang beristirahat di tenda mereka.
Kami terlalu capek sehingga memutuskan untuk mendirikan tenda tidak jauh dari gerombolan pendaki itu.
Kami bertiga tidak banyak bicara. Antara shock atau kecapaian, entahlah.. kami memejamkan mata sejenak.
Saat sinar matahari terasa agak panas, kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan.
Dari arah turunan, kami melihat ada bapak2 sedang mengangkut ranting2 kayu.
Kami kemudian bertanya, "Pak arah ke Kopeng lewat mana ya pak?" Bapak tersebut menjawab "Oh, cedak mas! Cuma setengah kilo..jalan aja lewat sana" "Terimakasih pak"
Kami melanjutkan perjalanan bertemu dengan sebuah desa bernama Genikan.
Kami rasa bapak tersebut salah perhitungan karena yang beliau bilang setengah km berasa ber km km.
Keluar dari desa kearah Kopeng. Kami melihat warung sederhana. Kami memutuskan untuk beristirahat, makan dan ngopi
Sepi sekali hari Minggu waktu itu.
Saya bertanya kepada pemilik warung. "Pak, minggu kok sepi njih?" Lalu wajah bapak itu terlihat kaget..
.
.
Bapak tersebut sempat takjub mendengar pertanyaan saya. "Hah? Minggu mas ? Niki dinten Senin niku mas". Kami bertiga kaget dan saling berpandangan... Senin???? Bukannya kami cuma mendaki satu hari???? Dari sabtu pagi?! Jadi?.. Joko pun membuka suara. "Pas aku lirik ke atas, pas ituu..kejadian itu.. kalian tau ada apa?" Saya dan sastro menggeleng. "Ada mahkluk tinggi besar, berbulu, mata merah menyala dan gigi seperti gading gajah, menyeringai..." .
.
.
Karena pemilik warung mendengar percakapan kami, beliaupun bertanya"Berarti mas-masnya naik dari Sabtu trus rasa2nya cuma sehari disana?" Kami menganggukan kepala lalu bercerita dari awal. "Mungkin sosok itu jin tiruan dr anak muda yang dulu kesasar saat mendaki mas. Jasadnya ditemukan beberapa hari kemudian di jurang"
Astaghfirullah..terjawab sudah.
Sosok jin yang menyerupai sosok pemuda yg dulu tewas saat mendaki itulah yang menunjukan jalan pulang untuk kami...
Mungkin supaya kami tidak bernasib sama sepertinya... Wallahu'alam.
Kami pamit dan menuju jalan besar.
Saat kami menumpang bus kembali ke Semarang. Saya melihat anak2 SD berjalan bergerombolan masih memakai seragam merah putih.
Ya benar, saat itu adalah benar hari Senin. Dan benar, saya dan dua teman saya sempat "tersesat" lebih dari satu hari di Gunung Merbabu.
Kami tidak tahu apa yang akan terjadi jika sosok jin "baik hati" itu tidak muncul untuk menolong kami. Entahlah.. Yang jelas. Hingga saat ini pengalaman tersebut sangat membekas. -Tamat-
Sumber: @mwv.mystic (IG)
Demikianlah cerita misteri nyata dengan judul Kisah Kelamku di Merbabu.
Kisah Kelamku di Merbabu
Sebut nama saya Adhi.
Ini pengalaman saya sudah sangat lama sebenarnya, sekitar masa2 kuliah tahun 2000an, saat mendaki gunung Merbabu.
Saya bagian dari Mapala, beberapa gunung terutama di Jawa Tengah pernah saya daki. Masing-masing punya pengalaman mistis sendiri2 namun ada satu yg sampai sekarang masih membekas.
.
.
Saya bercerita sambil mencoba mengingat detail-detail dan ciri2 lokasi dikarenakan pengalaman itu sudah belasan tahun lamanya namun kejadian inti masih cukup bikin ngeri kalau diingat2.
.
.
Berangkat dari Semarang, Jumat malam naik bus bersama 2 orang teman saya sebut saja Sastro dan Joko
Di perjalanan, bus yang saya tumpangi sempat ngetem, tidak jauh dari tempat ngetem ada warung sederhana yg juga menjual "angetan". Disini yg saya maksud bukan wedang jahe atau kopi panas, namun adalah minuman beralkohol dgn harga yg murah. Saya sempatkan membeli anggur putih, bukan white wine seperti di resto2 mahal, semacam minuman produksi lokal di daerah tersebut (maaf, saya tidak menyarankan hal ini dilakukan oleh pembaca, namun begitulah kejadian saat itu).
.
.
Bus berhenti di Selo, Boyolali. Jalur pendakian Merbabu yg cukup favorit karena tingkat kesukaran medium. Kami berempat berjalan menuju basecamp/posko pendakian. Setelah mendaftar, kami berempat memutuskan untuk menginap di camping ground dan baru mendaki di Sabtu pagi.
.
.
Singkat cerita, kami bertiga ketiduran hingga agak siang. Sekitar jam 11 kita baru berangkat mendaki. Awal pendakian sangat menyenangkan, walaupun beberapa kali bertemu dengan medan terjal, melewati Sabana , padang rumput dengan pemandangan yg indah.
Disini kami beristirahat cukup lama karena asyik menikmati pemandangan disekitar. Mendekati sore, kami mempercepat langkah karena kami ingin melihat pemandangan matahari tenggelam dari puncak.
Singkatnya, kami sampai di puncak Merbabu. Sayangnya kabut putih turun hingga pemandangan sunset tidak terlihat.
Karena sedikit mendung, dipuncak cuma kita habiskan untuk duduk2 dan berfoto.
Niat untuk mendirikan tenda di puncak kami urungkan karena kami berfirasat kurang bagus dengan cuaca saat itu.
Kami memutuskan untuk turun saat itu juga, mengambil jalur ke arah Kopeng.
Lalu..
Karena kabut cukup tebal ,jalan yang kami tapaki juga terjal dan hari sudah petang, entah mengapa firasat saya tidak enak dan agak kelimpungan saat itu.
Di depan kami ada jalur dua arah. Saya yakin jalan yang arah kanan adalah jalur ke arah Kopeng. Namun teman saya Joko justru berjalan mendahului rombongan dan memilih jalur arah kiri. Saat kami teriaki, dengan bersikukuh bilang, kami harus melewati jalan tersebut utk menuju Kopeng.
Akhirnya terpaksa kami mengikuti Joko. Jalur tersebut termasuk biasa , tidak terlalu terjal, kami mencoba menyusuri jalan tersebut namun tidak kunjung menemui jalur turun untuk arah kembali. Sedangkan nyala senter dari pendaki lain semakin jauh hingga menyerupai titik kunang2. Hingga waktu hampir tengah malam kami sadar, kami tersesat!!
.
.
.
.
Karena kami sudah sangat lelah pada saat itu, kami memutuskan untuk beristirahat. Pemandangan di depan gelap tertutup kabut. Setelah tenaga sedikit kembali, saya mencoba untuk berjalan2 memperhatikan sekitar sementara teman saya Sastro dan Joko tampak merebahkan badan di tanah.
Dengan nyala senter dan langkah yg pendek2 saya perhatikan sekitaran kami penuh dengan pohon yang rimbun tinggi sehingga menimbulkan kesan angker. Sampai lampu senter saya menyorot sekumpulan kabut yang berterbangan menjorok kebawah. Astaghfirullah! Jurang! Beruntung langkah saya terhenti. Sambil menuju ke arah teman2 saya,
.
.
Saya : woi, ati2! Jebule ono jurang ning kono!
.
.
Sastro : eh, mosok? Lha iki sakjane dewe tekan ngendi sih? Joko semrawut ki! (Eh, masak? Sebenernya kita dimana sih ini? Joko ngga bener nih!)
.
Joko yg tertuduh berusaha membela diri,
. "Ora yo, bener kene, wong aku dicritani jare lewate bener iki kok" (ngga ya, bener disini, orang aku dicritain bener kok lewat sini)
.
"Wuuu! Critone wong kok mbok gugu! Gondhes!" (Wuu, cerita orang kok kamu percaya , dasar b*go!)
Ujar saya kesal.
.
Jam menunjukan angka 2 (pagi). Saya kembali duduk, entah mengapa saya enggan melanjutkan perjalanan.
Saya duduk di gundukan tanah sekitar 2 meter dari Sastro dan Joko yang kembali rebahan...
Hawa sangat dingin, hingga saya memutuskan untuk mengeluarkan "angetan" yang masih sisa sekitar setengah botol. Selesai menenggak beberapa teguk, tiba2..
.
.
Tidak jelas dari mana, sekitar satu meter dadi tempat duduk kami ada seseorang berdiri.
Cirinya tinggi sekitar 160an, berambut cepak dan "krukupan sarung". Sarung yg dipakai sebagai pelindung dari hawa dingin.
.
.
Dia memandang ke arah kami. Saya memanggil2 Sastro dan Joko, "woi! Ono wong iki!"
.
.
Sastro dan Joko pun melihat sosok tersebut.
Namun mereka tidak bergeming dari tempatnya...
.
.
Sosok itu menghampiri saya, sambil agak deg2an, saya perhatikan benar2, sosoknya jelas manusia, tidak terawang.
Saya pikir dia penduduk desa setempat yang sedang mencari kayu atau apalah.
.
.
Dia duduk di dekat saya. Saya sapa, "saking pundi mas?". Dia cuma senyum.
"Rokok purun mas?" (Rokok mau mas?) Saya menawarkan rokok, dia menggeleng.
.
.
Tiba2 entah mengapa, kami seperti kontak bathin. Ngarang? Tidak. Seperti, sosok itu mengajak saya ngobrol hanya saja tidak berbicara dari mulut. Dan anehnya, saya mendengar.. saya sudah menceritakan bagaimana rasanya, sebelumnya saya tidak pernah mengalami hal seperti ini.
Hanya saja dia memandang saya, mulutnya tidak bergerak namun ada suara yg bisa saya dengar
.
.
"Aku seko kono kui mas"
(Aku dari sana mas)
DEG! Dari jurang yang tertutup kabut ini!!
.
.
Tangan saya mulai gemetar pemandangan saya agak kabur, saya tidak tahu apa efek saya ketakutan atau dari "angetan" yg saya tengguk tadi.
Tiba2 sosok itu menghilang dan saya lgsg berlari ke arah sastro dan joko.
"Kowe mau ndeloki rak? Krungu deknen ngomong rak?" Tanya saya sambil gelapan.
Sastro dan Joko menggeleng. "Ngomong opo to? Lha ndi wonge? Entes wae ono to mau ning sebelahmu? Meh tak parani padahal" (ngomong apa sih? Mana orangnya? Tadi di sebelahmu kan? Mau aku samperin kalian) "Ojo2 dhemit, hiiii" (jangan2 hantu, hiii) ujar Joko bergidik.
Lalu dengan sangat jelas..kami bertiga melihat sosok laki2 tadi berdiri di sebelah pohon yang sangat besar.
Sosok itu melambaikan tangan ke kami dan saya menangkap suara yg tidak tau datang dari mana seperti "Mas...lewat sini"
Ujar suara itu..
.
.
Saya dan kedua teman saya masih terpaku dan ragu2 untuk berjalan maju ke depan.
Lalu "Mas, lewat sini"
Suara itu kembali muncul.
Saya dan kedua teman saya memberanikan berjalan menuju sosok itu. "Lewat sini, jangan lewat yang situ"
Sosok itu sambil merentangkan tangan menunjuk sisi kanan pohon.
Saat kamu mendekati dengan langkah pendek2, antara merinding takut dan merinding kedinginan, kami menuju pohon yang daunya sangat rimbun hingga seperti menutupi langit2, membuat pencahayaan semakin gelap, mendekati pohon itu lalu saya menangkap suara lagi, "Lewat saja jangan liat keatas, nanti kamu gak bisa pulang"
Ternyata kedua teman saya juga mendengar. Karena saking penasarannya si Joko sempat melirik keatas dan dalam sekejab dia menahan teriak namun sempat saya dengar lirihannya "Ya Allah! Astaghfirullah!" Sambil trus berjalan maju dan menunduk melewati pohon, lalu.. Suasana cerah menyambut kami saat kami mendongakkan kepala.
Kami melirik kebelakang.
Rerimbunan pohon dengan sedikit kabut.
Kami mendengar sayup suara adzan subuh.
Kami bertiga gemetar mengucap Alhamdulillah.. lalu kami berjalan lurus ke depan.
Sampai bertemu gerombolan pendaki yang sedang beristirahat di tenda mereka.
Kami terlalu capek sehingga memutuskan untuk mendirikan tenda tidak jauh dari gerombolan pendaki itu.
Kami bertiga tidak banyak bicara. Antara shock atau kecapaian, entahlah.. kami memejamkan mata sejenak.
Saat sinar matahari terasa agak panas, kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan.
Dari arah turunan, kami melihat ada bapak2 sedang mengangkut ranting2 kayu.
Kami kemudian bertanya, "Pak arah ke Kopeng lewat mana ya pak?" Bapak tersebut menjawab "Oh, cedak mas! Cuma setengah kilo..jalan aja lewat sana" "Terimakasih pak"
Kami melanjutkan perjalanan bertemu dengan sebuah desa bernama Genikan.
Kami rasa bapak tersebut salah perhitungan karena yang beliau bilang setengah km berasa ber km km.
Keluar dari desa kearah Kopeng. Kami melihat warung sederhana. Kami memutuskan untuk beristirahat, makan dan ngopi
Sepi sekali hari Minggu waktu itu.
Saya bertanya kepada pemilik warung. "Pak, minggu kok sepi njih?" Lalu wajah bapak itu terlihat kaget..
.
.
Bapak tersebut sempat takjub mendengar pertanyaan saya. "Hah? Minggu mas ? Niki dinten Senin niku mas". Kami bertiga kaget dan saling berpandangan... Senin???? Bukannya kami cuma mendaki satu hari???? Dari sabtu pagi?! Jadi?.. Joko pun membuka suara. "Pas aku lirik ke atas, pas ituu..kejadian itu.. kalian tau ada apa?" Saya dan sastro menggeleng. "Ada mahkluk tinggi besar, berbulu, mata merah menyala dan gigi seperti gading gajah, menyeringai..." .
.
.
Karena pemilik warung mendengar percakapan kami, beliaupun bertanya"Berarti mas-masnya naik dari Sabtu trus rasa2nya cuma sehari disana?" Kami menganggukan kepala lalu bercerita dari awal. "Mungkin sosok itu jin tiruan dr anak muda yang dulu kesasar saat mendaki mas. Jasadnya ditemukan beberapa hari kemudian di jurang"
Astaghfirullah..terjawab sudah.
Sosok jin yang menyerupai sosok pemuda yg dulu tewas saat mendaki itulah yang menunjukan jalan pulang untuk kami...
Mungkin supaya kami tidak bernasib sama sepertinya... Wallahu'alam.
Kami pamit dan menuju jalan besar.
Saat kami menumpang bus kembali ke Semarang. Saya melihat anak2 SD berjalan bergerombolan masih memakai seragam merah putih.
Ya benar, saat itu adalah benar hari Senin. Dan benar, saya dan dua teman saya sempat "tersesat" lebih dari satu hari di Gunung Merbabu.
Kami tidak tahu apa yang akan terjadi jika sosok jin "baik hati" itu tidak muncul untuk menolong kami. Entahlah.. Yang jelas. Hingga saat ini pengalaman tersebut sangat membekas. -Tamat-
Sumber: @mwv.mystic (IG)
Demikianlah cerita misteri nyata dengan judul Kisah Kelamku di Merbabu.


