Wednesday, December 6, 2017

Kisah Kelamku di Merbabu

Postingan ini merupakan cerita misteri nyata dari seseorang yang dikirim ke @mwv.mystic (IG). Narasumber tidak disebutkan karena meminta identitasnya dirahasiakan.
Kisah Kelamku di Merbabu


Kisah Kelamku di Merbabu


Sebut nama saya Adhi.
Ini pengalaman saya sudah sangat lama sebenarnya, sekitar masa2 kuliah tahun 2000an, saat mendaki gunung Merbabu.
Saya bagian dari Mapala, beberapa gunung terutama di Jawa Tengah pernah saya daki. Masing-masing punya pengalaman mistis sendiri2 namun ada satu yg sampai sekarang masih membekas.
.
.
Saya bercerita sambil mencoba mengingat detail-detail dan ciri2 lokasi dikarenakan pengalaman itu sudah belasan tahun lamanya namun kejadian inti masih cukup bikin ngeri kalau diingat2.
.
.
Berangkat dari Semarang, Jumat malam naik bus bersama 2 orang teman saya sebut saja Sastro dan Joko
Di perjalanan, bus yang saya tumpangi sempat ngetem, tidak jauh dari tempat ngetem ada warung sederhana yg juga menjual "angetan". Disini yg saya maksud bukan wedang jahe atau kopi panas, namun adalah minuman beralkohol dgn harga yg murah. Saya sempatkan membeli anggur putih, bukan white wine seperti di resto2 mahal, semacam minuman produksi lokal di daerah tersebut (maaf, saya tidak menyarankan hal ini dilakukan oleh pembaca, namun begitulah kejadian saat itu).
.
.
Bus berhenti di Selo, Boyolali. Jalur pendakian Merbabu yg cukup favorit karena tingkat kesukaran medium. Kami berempat berjalan menuju basecamp/posko pendakian. Setelah mendaftar, kami berempat memutuskan untuk menginap di camping ground dan baru mendaki di Sabtu pagi.
.
.
Singkat cerita, kami bertiga ketiduran hingga agak siang. Sekitar jam 11 kita baru berangkat mendaki. Awal pendakian sangat menyenangkan, walaupun beberapa kali bertemu dengan medan terjal, melewati Sabana , padang rumput dengan pemandangan yg indah.
Disini kami beristirahat cukup lama karena asyik menikmati pemandangan disekitar. Mendekati sore, kami mempercepat langkah karena kami ingin melihat pemandangan matahari tenggelam dari puncak.

Singkatnya, kami sampai di puncak Merbabu. Sayangnya kabut putih turun hingga pemandangan sunset tidak terlihat.
Karena sedikit mendung, dipuncak cuma kita habiskan untuk duduk2 dan berfoto.
Niat untuk mendirikan tenda di puncak kami urungkan karena kami berfirasat kurang bagus dengan cuaca saat itu.


Kami memutuskan untuk turun saat itu juga, mengambil jalur ke arah Kopeng.
Lalu..
Karena kabut cukup tebal ,jalan yang kami tapaki juga terjal dan hari sudah petang, entah mengapa firasat saya tidak enak dan agak kelimpungan saat itu.
Di depan kami ada jalur dua arah. Saya yakin jalan yang arah kanan adalah jalur ke arah Kopeng. Namun teman saya Joko justru berjalan mendahului rombongan dan memilih jalur arah kiri. Saat kami teriaki, dengan bersikukuh bilang, kami harus melewati jalan tersebut utk menuju Kopeng.
Akhirnya terpaksa kami mengikuti Joko. Jalur tersebut termasuk biasa , tidak terlalu terjal, kami mencoba menyusuri jalan tersebut namun tidak kunjung menemui jalur turun untuk arah kembali. Sedangkan nyala senter dari pendaki lain semakin jauh hingga menyerupai titik kunang2. Hingga waktu hampir tengah malam kami sadar, kami tersesat!!
.
.
.
.
Karena kami sudah sangat lelah pada saat itu, kami memutuskan untuk beristirahat. Pemandangan di depan gelap tertutup kabut. Setelah tenaga sedikit kembali, saya mencoba untuk berjalan2 memperhatikan sekitar sementara teman saya Sastro dan Joko tampak merebahkan badan di tanah.
Dengan nyala senter dan langkah yg pendek2 saya perhatikan sekitaran kami penuh dengan pohon yang rimbun tinggi sehingga menimbulkan kesan angker. Sampai lampu senter saya menyorot sekumpulan kabut yang berterbangan menjorok kebawah. Astaghfirullah! Jurang! Beruntung langkah saya terhenti. Sambil menuju ke arah teman2 saya,
.
.
Saya : woi, ati2! Jebule ono jurang ning kono!
.
.
Sastro : eh, mosok? Lha iki sakjane dewe tekan ngendi sih? Joko semrawut ki! (Eh, masak? Sebenernya kita dimana sih ini? Joko ngga bener nih!)
.
Joko yg tertuduh berusaha membela diri,
. "Ora yo, bener kene, wong aku dicritani jare lewate bener iki kok" (ngga ya, bener disini, orang aku dicritain bener kok lewat sini)
.
"Wuuu! Critone wong kok mbok gugu! Gondhes!" (Wuu, cerita orang kok kamu percaya , dasar b*go!)
Ujar saya kesal.
.
Jam menunjukan angka 2 (pagi). Saya kembali duduk, entah mengapa saya enggan melanjutkan perjalanan.

Saya duduk di gundukan tanah sekitar 2 meter dari Sastro dan Joko yang kembali rebahan...



Hawa sangat dingin, hingga saya memutuskan untuk mengeluarkan "angetan" yang masih sisa sekitar setengah botol. Selesai menenggak beberapa teguk, tiba2..
.
.
Tidak jelas dari mana, sekitar satu meter dadi tempat duduk kami ada seseorang berdiri.
Cirinya tinggi sekitar 160an, berambut cepak dan "krukupan sarung". Sarung yg dipakai sebagai pelindung dari hawa dingin.
.
.
Dia memandang ke arah kami. Saya memanggil2 Sastro dan Joko, "woi! Ono wong iki!"
.
.
Sastro dan Joko pun melihat sosok tersebut.
Namun mereka tidak bergeming dari tempatnya...
.
.
Sosok itu menghampiri saya, sambil agak deg2an, saya perhatikan benar2, sosoknya jelas manusia, tidak terawang.
Saya pikir dia penduduk desa setempat yang sedang mencari kayu atau apalah.
.
.
Dia duduk di dekat saya. Saya sapa, "saking pundi mas?". Dia cuma senyum.
"Rokok purun mas?" (Rokok mau mas?) Saya menawarkan rokok, dia menggeleng.
.
.
Tiba2 entah mengapa, kami seperti kontak bathin. Ngarang? Tidak. Seperti, sosok itu mengajak saya ngobrol hanya saja tidak berbicara dari mulut. Dan anehnya, saya mendengar.. saya sudah menceritakan bagaimana rasanya, sebelumnya saya tidak pernah mengalami hal seperti ini.
Hanya saja dia memandang saya, mulutnya tidak bergerak namun ada suara yg bisa saya dengar
.
.
"Aku seko kono kui mas"
(Aku dari sana mas)
DEG! Dari jurang yang tertutup kabut ini!!
.
.
Tangan saya mulai gemetar pemandangan saya agak kabur, saya tidak tahu apa efek saya ketakutan atau dari "angetan" yg saya tengguk tadi.

Tiba2 sosok itu menghilang dan saya lgsg berlari ke arah sastro dan joko.
"Kowe mau ndeloki rak? Krungu deknen ngomong rak?" Tanya saya sambil gelapan.

Sastro dan Joko menggeleng. "Ngomong opo to? Lha ndi wonge? Entes wae ono to mau ning sebelahmu? Meh tak parani padahal" (ngomong apa sih? Mana orangnya? Tadi di sebelahmu kan? Mau aku samperin kalian) "Ojo2 dhemit, hiiii" (jangan2 hantu, hiii) ujar Joko bergidik.

Lalu dengan sangat jelas..kami bertiga melihat sosok laki2 tadi berdiri di sebelah pohon yang sangat besar.
Sosok itu melambaikan tangan ke kami dan saya menangkap suara yg tidak tau datang dari mana seperti "Mas...lewat sini"

Ujar suara itu..

.
.
Saya dan kedua teman saya masih terpaku dan ragu2 untuk berjalan maju ke depan.

Lalu "Mas, lewat sini"

Suara itu kembali muncul.

Saya dan kedua teman saya memberanikan berjalan menuju sosok itu. "Lewat sini, jangan lewat yang situ"
Sosok itu sambil merentangkan tangan menunjuk sisi kanan pohon.

Saat kamu mendekati dengan langkah pendek2, antara merinding takut dan merinding kedinginan, kami menuju pohon yang daunya sangat rimbun hingga seperti menutupi langit2, membuat pencahayaan semakin gelap, mendekati pohon itu lalu saya menangkap suara lagi, "Lewat saja jangan liat keatas, nanti kamu gak bisa pulang"

Ternyata kedua teman saya juga mendengar. Karena saking penasarannya si Joko sempat melirik keatas dan dalam sekejab dia menahan teriak namun sempat saya dengar lirihannya "Ya Allah! Astaghfirullah!" Sambil trus berjalan maju dan menunduk melewati pohon, lalu.. Suasana cerah menyambut kami saat kami mendongakkan kepala.
Kami melirik kebelakang.

Rerimbunan pohon dengan sedikit kabut.
Kami mendengar sayup suara adzan subuh.
Kami bertiga gemetar mengucap Alhamdulillah.. lalu kami berjalan lurus ke depan.
Sampai bertemu gerombolan pendaki yang sedang beristirahat di tenda mereka.

Kami terlalu capek sehingga memutuskan untuk mendirikan tenda tidak jauh dari gerombolan pendaki itu.

Kami bertiga tidak banyak bicara. Antara shock atau kecapaian, entahlah.. kami memejamkan mata sejenak.
Saat sinar matahari terasa agak panas, kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan.

Dari arah turunan, kami melihat ada bapak2 sedang mengangkut ranting2 kayu.

Kami kemudian bertanya, "Pak arah ke Kopeng lewat mana ya pak?" Bapak tersebut menjawab "Oh, cedak mas! Cuma setengah kilo..jalan aja lewat sana" "Terimakasih pak"

Kami melanjutkan perjalanan bertemu dengan sebuah desa bernama Genikan.

Kami rasa bapak tersebut salah perhitungan karena yang beliau bilang setengah km berasa ber km km.

Keluar dari desa kearah Kopeng. Kami melihat warung sederhana. Kami memutuskan untuk beristirahat, makan dan ngopi

Sepi sekali hari Minggu waktu itu.

Saya bertanya kepada pemilik warung. "Pak, minggu kok sepi njih?" Lalu wajah bapak itu terlihat kaget..


.
.
Bapak tersebut sempat takjub mendengar pertanyaan saya. "Hah? Minggu mas ? Niki dinten Senin niku mas". Kami bertiga kaget dan saling berpandangan... Senin???? Bukannya kami cuma mendaki satu hari???? Dari sabtu pagi?! Jadi?.. Joko pun membuka suara. "Pas aku lirik ke atas, pas ituu..kejadian itu.. kalian tau ada apa?" Saya dan sastro menggeleng. "Ada mahkluk tinggi besar, berbulu, mata merah menyala dan gigi seperti gading gajah, menyeringai..." .
.
.
Karena pemilik warung mendengar percakapan kami, beliaupun bertanya"Berarti mas-masnya naik dari Sabtu trus rasa2nya cuma sehari disana?" Kami menganggukan kepala lalu bercerita dari awal. "Mungkin sosok itu jin tiruan dr anak muda yang dulu kesasar saat mendaki mas. Jasadnya ditemukan beberapa hari kemudian di jurang"

Astaghfirullah..terjawab sudah.

Sosok jin yang menyerupai sosok pemuda yg dulu tewas saat mendaki itulah yang menunjukan jalan pulang untuk kami...
Mungkin supaya kami tidak bernasib sama sepertinya... Wallahu'alam.

Kami pamit dan menuju jalan besar.

Saat kami menumpang bus kembali ke Semarang. Saya melihat anak2 SD berjalan bergerombolan masih memakai seragam merah putih.

Ya benar, saat itu adalah benar hari Senin. Dan benar, saya dan dua teman saya sempat "tersesat" lebih dari satu hari di Gunung Merbabu.

Kami tidak tahu apa yang akan terjadi jika sosok jin "baik hati" itu tidak muncul untuk menolong kami. Entahlah.. Yang jelas. Hingga saat ini pengalaman tersebut sangat membekas. -Tamat-

Sumber: @mwv.mystic (IG)

Demikianlah cerita misteri nyata dengan judul Kisah Kelamku di Merbabu.

Salam Untukmu di Gunung Sindoro

Perkenalkan saya Adhi, sebelumnya saya pernah membagikan kisah mistis saat mendaki Gn Merbabu. Kali ini saya coba berbagi cerita saat mendaki Gunung Sindoro yang terletak di kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah.
Salam Untukmu di Gunung Sindoro


Kisah ini terjadi saat ketiga kalinya saya mendaki gunung Sindoro Tepatnya 14 tahun yg lalu, suasana pendakian di tahun2 tersebut tentu jauh berbeda dari suasana tahun2 belakangan ini.

Di pendakian Sindoro yg ketiga ini saya membawa cukup banyak teman, jumlah kami 10 orang termasuk saya. Sastro dan Joko dari kisah sebelumnya juga berangkat. Ada 3 mahasiswi Mapala yg ikut saat itu. Salah satunya sebut saja Lesti.
.
.
Kami berangkat pagi hari dari Semarang menumpang bus jurusan Magelang dan di lanjut lagi dengan jurusan Wonosobo turun di Desa Kledung.

Seperti biasa, setibanya di Basecamp Kledung kami melakukan pendaftaran, persiapan dan ISOMA. Kami baru berangkat mendaki setelah sholat Maghrib.
.
.
Dari basecamp ke POS 1 memakan waktu cukup lama hampir 1 jam jalan kaki. Saya berjalan paling belakang mengawal rombongan ditemani Lesti dan Ani, yg juga mahasiswi anggota Mapala. Melewati perkebunan warga, Lesti dan Ani berjalan mendahului saya. Pandangan saya menatap sosok laki2 tua dipinggir kebun tampak sedang beres2.
Saya pun menyapa "Nuwun sewu (permisi) pak, malam2 masih dikebun?"
.
.
Si bapak menengok ke arah saya , "Oalah ini mas, baru selesai beres2 bentar lagi pulang, mau naik ya mas? yowis, hati2 yaa..permisi.." Si bapak pamit sambil melayakan senter.
"Monggo pak" jawab saya.
.
.
Sastro tiba2 mendekati saya, "Monggo apa, Dhi? Ngomong sama siapa?" tanya Sastro. Saya menengok kebelakang, bapak yang tadi sudah tidak ada. Cepat sekali jalannya, pikir saya. "Oh, ngga apa2. Nanti aja, yok ah!" ajak saya. Sepertinya bapak yang tadi...ah sudahlah, pikir saya.
.
.
Singkat cerita, kami tiba di Pos 1 dan lanjut ke Pos 2. Track dari Pos 1 ke Pos 2 cukup berkelok-kelok, didonimasi dengan tanah landai dan bebatuan yang cukup besar. Sampai di Pos 2 kami berhenti sambil minum sebentar. Saya duduk selonjor, tas saya lepas dan saya taruh di samping.
Setelah beberapa saat, "Ayo Dhi, lanjut!" ajak teman saya.
.
.
.
Saya mengangguk, meraih tas carrier dan melanjutkan perjalanan. Saya melihat Lesti berjalan pelan dan ngos-ngosan, lalu saya putuskan untuk menemaninya berjalan, khawatir kalau terjadi apa2. Dari Pos 2 kami lanjut ke Pos 3.
Saya mulai merasa agak kepayahan disini, punggung terasa pegal sekali seperti tas carrier saya jadi berat 3x lipat sampai saya berjalan agak membungkuk. Rombongan sudah beberapa meter di depan saya, posisi saya dibelakang sendiri.

Lalu dari depan salah seorang teman saya memanggil "Woi, lama amat Dhi!" "Udah kalian jalan aja dulu, aku nemenin Lesti nih!" jawabku, padahal alasannya juga karena tas carrier saya tiba2 menjadi tambah berat. "Oke, ketemu di tempat biasa yo!" "Yoi" jawab saya. Tempat itu adalah tempat biasa kami mendirikan tenda di Pos 3. "Lah..Mas Adhi juga ngos2an gitu, berenti bentar gimana mas?" tanya Lesti sesaat setelah rombongan kami mendahului ke depan.

Saya mengangguk, lalu melepas tas carrier saya, lalu saya coba angkat lagi. "Lah? Kok jadi biasa lagi beratnya?" bathin saya. Saya angkat2 tas carrier ini dengan tangan seperti sedang latihan barbel.. biasa beratnya, kayak pertama berangkat tadi...
Saya pakai kembali tas carrier itu, tiba2 menjadi tambah berat lagi. Seperti ketambahan muatan. "Ada yg ngga beres" pikir saya. "Kenapa mas tasnya?" tanya Lesti.
Karena tidak mau membuat si Lesti ini panik atau jadi ikut mikir yang engga2, saya menggeleng dan ajak dia ngobrol santai.

Track yang menanjak, berbatu, tas carrier yang tiba2 tambah berat, ditambah ngawal si Lesti membuat punggung saya linu. "Hmm..kayak ada yang nempel di punggung. Tolong jangan ganggu, kami ngga macem2 deh." bathin saya. Kalo orang Jawa bilang "nyambat", numpang2 sama yang "nunggu: gunung ini. Tapi tetap saja, punggung saya seperti "ditempeli" sesuatu yang berat.
Rombongan kami sampai sudah tidak terlihat lagi, cuma ada saya, Lesti dan nyala senter kami.
.
Sesampainya di Pos 3, saya melihat teman saya Joko dan Sastro lesehan di depan tenda.
"Eh pak, lama amat, encok ya?" goda si Joko.
"Gundhulmu" jawabku.

Saya lalu bertanya ke Lesti,
"Les, jangan tersinggung yo. Aku mau nanya, maaf2 yo, kamu sedang halangan, ndak?"..
.
.
Lesti tampak kaget.
"Ngga lah mas, mana berani aku lagi halangan naik gunung" jawabnya.
"Lha napa to mas?" tanyanya.
Aku jawab, "Ya ndak, kok keliatannya kamu lemes banget tadi" "Oh..aku emang agak capek mas, sebelum berangkat kan ngejar deadline tugas2 di kampus" "Oalah" jawabku sambil mengangguk.

Padahal sebenarnya, saya tanya karena penasaran, kenapa saya "diganggu" dengan tas carrier yg tiba2 jadi berat sekali saat mendaki tadi.

Saya memasak air dgn kompor gas mini portable milik Lesti untuk nyeduh kopi dan masak mie instan.
Sambil menunggu air matang, saya lepas sepatu, duduk selonjor sambil merokok. Sebatang habis, saya perhatian air mulai mendidih, saya ambil gelas yg sudah saya isi kopi, lalu saya tuangkan air dari panci itu.

Tiba2, air yang mendidih tadi berubah dingin begitu masuk ke gelas. Bukan dingin seperti es tp dingin seperti air itu tidak pernah dimasak!. "Kok aneh?" bathin saya. Saya celupkan jari ke gelas, benar adem airnya! Padahal tadi mendidih!. Saya menengok dan memperhatikan sekitar, teman2 sudah masuk ke tenda2 mereka, cuma saya sendiri di luar.
"Jangan panik...jangan panik.." bathin saya, saya nyalakan rokok lagi sambil jalan mondar-mandir di depan tenda. Sastro dan Joko teman saya keluar, "Ngapain, Dhi? udah mateng airnya?" Saya jawab , "Belum. bentar lagi..". Lalu Joko bertanya "Ada yg aneh?" . Saya menggeleng karena tidak mau membuat panik
"Aku 1, Sastro 1 trus nambah 2 buat yang lain yoo.. sisanya udah makan biskuit sama roti", disini maksudnya dia mau nitip bikin mie instan. "Woo.. penak men uripmu cah.. masak dewe! Lhapo warung.. (woo enak banget kamu, masak sendiri! Kamu kira warung)" omel saya, Joko cuma cengengesan.

Lalu dia main kartu sambil ditemani anak2 lain yang ikut keluar tenda. Saya nyalakan kompor lagi. Beberapa saat air itu mendidih, saya angkat panci, lalu iseng saya celupkan ujung kuku saya ke dalam air, adem airnya! padahal beneran mendidih tadi, sumpah! Wah..ngga beres ini! gumam saya. Saya coba taruh panci itu di atas kompor, mendidih lagi, saat saya celupkan jari saya lagi, adem airnya!
.
Karena jengkel dan perut lapar, saya menggerutu, "nganggu bener! udah numpang2 kan tadi, capek ni ah!"
.
.
Lalu.. Ngga lama, sekitar beberapa meter dari tempat saya masak, muncul sosok perempuan dari balik rimbunan pohon. Pake putih2, rambut panjang awut-awutan?? Tidak. Perempuan biasa, pake jaket, topi kupluk, sepatu, pokoknya atribut pendaki dan jelas sekali sosoknya sampai saya bisa melihat merk kupluk yang dia pake, merk E.
Dia memandangi saya, saya pandangi dia, kita pandang2an. Romantis? Nggak! karena ni cewek tanpa ekspresi muka, wajahnya putih pucat dan mari pakai logika, dia tiba2 muncul dari balik pohon dan tenda pendaki lain ada kurang lebih 10 meter dari kami. "Aduh sial, mulai lagi nih" bathin saya. Yg saya maksud "mulai" ini adl mulai lagi ketemu yg mistis2. Oh iya, intermezzo sebentar, saya termasuk orang sensitif dengan yg gaib2. Saya sering melihat sosok "mereka" namun tidak bisa dibilang saya indigo. Ayah saya dan adek2 saya juga seperti ini. Apa ini semacam keturunan? Wallahu a'lam, mungkin ada mwvers yg bernasib sama.

Saya usap muka saya, lalu saya lihat lagi sosok itu masih ada dan melihat ke saya! Lalu tiba2, sosok itu melotot sambil tersenyum menyeringai. Coba bayangkan, melotot tp meringis, menyeringai!.
"Astagfirullah!" Kaget dan refleks saya lempar sepatu saya ke arah sosok itu, dan..dia menghilang!
Teman-teman yang tadi main kartu diluar tenda menghampiri saya rame2. "Dhi! kenapa woi?" "Asem, digangguin tadi!" ujar saya "Wah meden2i cah iki (wah nakut2in ni anak). Trs setannya udah pergi?" Raut mereka macam2, ada yg tegang, celingak celinguk dan ketakutan.

Saya mengangguk sambil setengah lari saya ambil sepatu yg saya lempar tadi. "Jadi gimana nih? Pindah aja?" tanya Sastro. "Ngga usah, kayaknya cuma aku aja yang diganggu, kalian masuk aja", kataku.
Niat untuk menyeduh kopi dan masak mie instant saya urungkan. Di tenda, saya mulai menceritakan apa yg saya alami dari awal.

Jam menunjukan sekitar jam3 pagi saat saya dan rombongan bangun dan bersiap2 untuk lanjut ke pos IV dan terakhir, puncak. Pemandangan kawah Gn.Sindoro sangat bagus membuat saya sedikit lupa dengan kejadian semalam.

Menjelang tengah hari, saya dan rombongan memutuskan untuk turun. Di jalan, kami berpapasan dengan 4 pendaki asal Jakarta...
.
.
Mereka menyapa kami, lalu salah satu dari mereka bertanya ke saya, Sebut saja dia si A. "Udah pernah kesini sebelumnya, kak?" tanya si A "Sudah 3x ini mas" Jawab saya. Lalu salah satu lagi, sebut saja B bertanya, "Semalam itu ada apa kak? Di gangguin sama makhluk halus ya?" Saya kaget, "Kok kamu tau?" tanya saya. "Kan seberang kakak itu tenda kami, pas kami denger ribut2, saya sempet nguping sih" "Oh iya, saya digangguin dari Pos 2 mas, dari tas tiba2 tambah berat, masak air sampe mendidih begitu dituang mendadak jadi adem, yang terakhir itu liat sosok perempuan mas, kayaknya dulu dia pendaki, pake atribut lengkap" cerita saya.

Lalu, "Boleh kami di ceritain ciri2nya kak?" tanya A.
Sebelum saya bicara, salah satu teman saya memanggil, "Dhi, ayo!" "Kalian duluan saja, nanti aku susul" jawabku. "Oke sip" , lalu rombongan saya berjalan medahului saya.

Jadilah saya berlima dengan rombongan dari Jakarta ini. "Jadi, sosok ini rambutnya lurus panjang, ngga terlalu tinggi, sekitar 160an, pake jaket merah sama topi kupluk warna biru" cerita saya.

Lalu mereka menghentikan langkah, raut mereka sedikit kaget. Si A mengeluarkan dompetnya dan mengambil secarik foto dengan banyak wajah. "Kayak cewek ini kak?" dia menunjuk salah satu wajah disana.
Saya perhatikan betul2. Ah iya! persis ini.
"Lho, kalian kenal?" tanya saya."Dia teman kami kak". Lalu si A menjelaskan.

Rupanya gadis itu adalah temannya, sebut saja C. Dua tahun lalu, dia mendaki Gn. Sindoro bersama rombongan teman2 dari pacarnya. Lalu ada sebuah tragedi. Rupanya, salah seorang gadis yg ikut dalam rombongan, diam2 menyukai pacar si C sebut saja dia si D. Ditengah pendakian, D dan C beradu argumen, lalu D dengan sengaja menyenggol bahu C yg menyebabkan C hilang keseimbangan lalu terjatuh di tanjakan dan kepalanya terantuk batu. Sayangnya, si C meninggal seketika..
.

Lalu jasad C dibawa pulang oleh orang tuanya. Sejak itu pacar si C dan D seolah menghilang, orang tua C pun tidak melanjutkan kasus tsb ke ranah hukum.

Dua tahun setelah kejadian, teman-teman Mapala dari kampus C berinisiatif untuk mendaki Gn.Sindoro dalam rangka mengenang kepergian si C...
.
.
"Rencananya kami ingin meletakkan ini, kak", si A mengeluarkan plat marmer kecil dari carriernya. Bertuliskan In Memoriam... (nama si C). "Bisa minta tolong antar kami ke lokasi tempat pertama kakak merasa punggungnya ditempeli sesuatu yg berat?" tanya A.
Saya mengangguk, walaupun jujur awalnya sulit untuk saya mengerti. Semua serba aneh, serba kebetulan, akal sehat saya susah mencerna keadaan waktu itu.

Kami pun menuruni medan yang cukup licin berbatu, lalu saya menunjuk area dimana saya merasakan seperti "menggendhong" sesuatu. "Disana, mas" tunjuk saya.
Lalu rombangan pemuda tsb berdiskusi dengan suara yg pelan, saya pun kurang bisa mendengar jelas waktu itu.

Lalu, "Terimakasih kak, saya letakkan disini, kami rasa disinilah C dulu meninggal" kata si A. Tampaknya mereka meletakkan plat itu di bawah rerimbunan rumput dan tertutup dengan batu2.

Kemudian saya pamit, menyusul rombongan saya yang mungkin sudah jauh di depan.
Selama perjalanan turun, saya masih bertanya2, apa ini semua kenyataan? namun foto yang ditunjukan si A dengan sosok yang saya lihat sangat mirip.

Saya kurang tahu, saya hanya menceritakan apa yang A ceritakan pada saya saat itu. Bahwa temannya si C meninggal dengan cara seperti itu. Dan kejadian di Pos 3 itupun benar nyata terjadi pada saya, hingga masih saya ingat sampai sekarang.

Pelajaran ini membuat saya lebih berhati-hati lagi saat mendaki. Walaupun sering melihat dan mengalami kejadian mistis, hal itu tidak menyurutkan keinginan saya untuk mendaki lagi.

Salam lestari!

Tamat.

Sumber: @mwv.mystic (IG)

Tuesday, December 5, 2017

Si Noni Belanda

Aku mau cerita tentang taman tua di dekat SDN 1 Sambirejo , SD saya dulu..
Si Noni Belanda


Disana, ada taman kecil yang bersebelahan sama lahan kosong yang banyak di tumbuhin rumput liar . Istilahnya diapit sama gedung sekolahan sama lahan itu..
Taman itu gimana ya, kayak forbidden gitu, .. di kelilingi seng setinggi satu meter dan kawat duri.

Waktu masih bocah banget , kelas 1 sampe 4 emang ane gabisa ngintip ke Dalem tu Taman krn msh boncel .. nah pas masuk kelas 5 , ane udah bisa ngelongok ke dlmnya
.
Didalemnya ya standar, Cuma rumput tinggi , bangku semen memanjang dan tiga buah ayunan dari ban bekas .. intinya, gada yang spesial Lah .. gak jelas banget kenapa bisa di sebut Taman.. tapi dibalik itu, ada sosok terkenal yg menunggui taman itu..
.
Kata orang sekitar, sering banget keliatan noni kecil maen ayunan , hampir setiap malem disana. Ane sendiri belom pernah liat dan ane gak ada nafsu pengen ngebuktiin Kata orang orang itu..
Menurut orang yang pernah ngeliat , noni itu rambutnya putih bergelombang.. Pake gaun putih mekar dan topi lebar.. yang bikin miris, adalah gmana awalnya si noni bisa ada disana...
.
.
Konon dlu si noni kecil suka ikut bapaknya ke sekolah.. Dia akrab banget sama siswa2 SLB yang kebanyakan anak petinggi PKI yang markasnya emang di kotaku.. walaupun beda ras, dia tetep gabung ama anak2 pribumi..
Tapi diluar dugaan.. hal itu mmbawa petaka, Entah gimana , ada orang tua siswa yg gak suka liat keakraban anaknya Sama si noni , kemungkinan cemburu ngeliat noni yang cantik Dan fisiknya sempurna, sedangkan anakny sendiri cacat fisik Dan keterbelakangan mental..

Dengan teganya, ibu siswa SLB td ngebunuh si noni dengan cara ngedorong ayunan keras keras sampai noni itu terjerembab Dan mati seketika..

Bapaknya si noni sedih bukan main,dgn kalap Dia mageri Taman pake kawat duri yang melukai tangannya sendiri.. harapannya agar roh anaknya bisa main sendirian tanpa dicelakai org lg.. Dia gak ngebolehin satu orangpun masuk ke Taman itu.

Ane denger juga , ITU dulu ayunan dari kayu.. Tapi ada orang yang ngeganti dengan ban bekas Sama rantai gara2 mulai rapuh..
Kemunculan si noni? Hampir tiap malem sampe warga sekitar terbiasa..
Tamat.

Sumber: mwv.mystic (IG)

Cerita kiriman @mezbah540 (IG)