Wednesday, December 6, 2017

Kisah Kelamku di Merbabu

Postingan ini merupakan cerita misteri nyata dari seseorang yang dikirim ke @mwv.mystic (IG). Narasumber tidak disebutkan karena meminta identitasnya dirahasiakan.
Kisah Kelamku di Merbabu


Kisah Kelamku di Merbabu


Sebut nama saya Adhi.
Ini pengalaman saya sudah sangat lama sebenarnya, sekitar masa2 kuliah tahun 2000an, saat mendaki gunung Merbabu.
Saya bagian dari Mapala, beberapa gunung terutama di Jawa Tengah pernah saya daki. Masing-masing punya pengalaman mistis sendiri2 namun ada satu yg sampai sekarang masih membekas.
.
.
Saya bercerita sambil mencoba mengingat detail-detail dan ciri2 lokasi dikarenakan pengalaman itu sudah belasan tahun lamanya namun kejadian inti masih cukup bikin ngeri kalau diingat2.
.
.
Berangkat dari Semarang, Jumat malam naik bus bersama 2 orang teman saya sebut saja Sastro dan Joko
Di perjalanan, bus yang saya tumpangi sempat ngetem, tidak jauh dari tempat ngetem ada warung sederhana yg juga menjual "angetan". Disini yg saya maksud bukan wedang jahe atau kopi panas, namun adalah minuman beralkohol dgn harga yg murah. Saya sempatkan membeli anggur putih, bukan white wine seperti di resto2 mahal, semacam minuman produksi lokal di daerah tersebut (maaf, saya tidak menyarankan hal ini dilakukan oleh pembaca, namun begitulah kejadian saat itu).
.
.
Bus berhenti di Selo, Boyolali. Jalur pendakian Merbabu yg cukup favorit karena tingkat kesukaran medium. Kami berempat berjalan menuju basecamp/posko pendakian. Setelah mendaftar, kami berempat memutuskan untuk menginap di camping ground dan baru mendaki di Sabtu pagi.
.
.
Singkat cerita, kami bertiga ketiduran hingga agak siang. Sekitar jam 11 kita baru berangkat mendaki. Awal pendakian sangat menyenangkan, walaupun beberapa kali bertemu dengan medan terjal, melewati Sabana , padang rumput dengan pemandangan yg indah.
Disini kami beristirahat cukup lama karena asyik menikmati pemandangan disekitar. Mendekati sore, kami mempercepat langkah karena kami ingin melihat pemandangan matahari tenggelam dari puncak.

Singkatnya, kami sampai di puncak Merbabu. Sayangnya kabut putih turun hingga pemandangan sunset tidak terlihat.
Karena sedikit mendung, dipuncak cuma kita habiskan untuk duduk2 dan berfoto.
Niat untuk mendirikan tenda di puncak kami urungkan karena kami berfirasat kurang bagus dengan cuaca saat itu.


Kami memutuskan untuk turun saat itu juga, mengambil jalur ke arah Kopeng.
Lalu..
Karena kabut cukup tebal ,jalan yang kami tapaki juga terjal dan hari sudah petang, entah mengapa firasat saya tidak enak dan agak kelimpungan saat itu.
Di depan kami ada jalur dua arah. Saya yakin jalan yang arah kanan adalah jalur ke arah Kopeng. Namun teman saya Joko justru berjalan mendahului rombongan dan memilih jalur arah kiri. Saat kami teriaki, dengan bersikukuh bilang, kami harus melewati jalan tersebut utk menuju Kopeng.
Akhirnya terpaksa kami mengikuti Joko. Jalur tersebut termasuk biasa , tidak terlalu terjal, kami mencoba menyusuri jalan tersebut namun tidak kunjung menemui jalur turun untuk arah kembali. Sedangkan nyala senter dari pendaki lain semakin jauh hingga menyerupai titik kunang2. Hingga waktu hampir tengah malam kami sadar, kami tersesat!!
.
.
.
.
Karena kami sudah sangat lelah pada saat itu, kami memutuskan untuk beristirahat. Pemandangan di depan gelap tertutup kabut. Setelah tenaga sedikit kembali, saya mencoba untuk berjalan2 memperhatikan sekitar sementara teman saya Sastro dan Joko tampak merebahkan badan di tanah.
Dengan nyala senter dan langkah yg pendek2 saya perhatikan sekitaran kami penuh dengan pohon yang rimbun tinggi sehingga menimbulkan kesan angker. Sampai lampu senter saya menyorot sekumpulan kabut yang berterbangan menjorok kebawah. Astaghfirullah! Jurang! Beruntung langkah saya terhenti. Sambil menuju ke arah teman2 saya,
.
.
Saya : woi, ati2! Jebule ono jurang ning kono!
.
.
Sastro : eh, mosok? Lha iki sakjane dewe tekan ngendi sih? Joko semrawut ki! (Eh, masak? Sebenernya kita dimana sih ini? Joko ngga bener nih!)
.
Joko yg tertuduh berusaha membela diri,
. "Ora yo, bener kene, wong aku dicritani jare lewate bener iki kok" (ngga ya, bener disini, orang aku dicritain bener kok lewat sini)
.
"Wuuu! Critone wong kok mbok gugu! Gondhes!" (Wuu, cerita orang kok kamu percaya , dasar b*go!)
Ujar saya kesal.
.
Jam menunjukan angka 2 (pagi). Saya kembali duduk, entah mengapa saya enggan melanjutkan perjalanan.

Saya duduk di gundukan tanah sekitar 2 meter dari Sastro dan Joko yang kembali rebahan...



Hawa sangat dingin, hingga saya memutuskan untuk mengeluarkan "angetan" yang masih sisa sekitar setengah botol. Selesai menenggak beberapa teguk, tiba2..
.
.
Tidak jelas dari mana, sekitar satu meter dadi tempat duduk kami ada seseorang berdiri.
Cirinya tinggi sekitar 160an, berambut cepak dan "krukupan sarung". Sarung yg dipakai sebagai pelindung dari hawa dingin.
.
.
Dia memandang ke arah kami. Saya memanggil2 Sastro dan Joko, "woi! Ono wong iki!"
.
.
Sastro dan Joko pun melihat sosok tersebut.
Namun mereka tidak bergeming dari tempatnya...
.
.
Sosok itu menghampiri saya, sambil agak deg2an, saya perhatikan benar2, sosoknya jelas manusia, tidak terawang.
Saya pikir dia penduduk desa setempat yang sedang mencari kayu atau apalah.
.
.
Dia duduk di dekat saya. Saya sapa, "saking pundi mas?". Dia cuma senyum.
"Rokok purun mas?" (Rokok mau mas?) Saya menawarkan rokok, dia menggeleng.
.
.
Tiba2 entah mengapa, kami seperti kontak bathin. Ngarang? Tidak. Seperti, sosok itu mengajak saya ngobrol hanya saja tidak berbicara dari mulut. Dan anehnya, saya mendengar.. saya sudah menceritakan bagaimana rasanya, sebelumnya saya tidak pernah mengalami hal seperti ini.
Hanya saja dia memandang saya, mulutnya tidak bergerak namun ada suara yg bisa saya dengar
.
.
"Aku seko kono kui mas"
(Aku dari sana mas)
DEG! Dari jurang yang tertutup kabut ini!!
.
.
Tangan saya mulai gemetar pemandangan saya agak kabur, saya tidak tahu apa efek saya ketakutan atau dari "angetan" yg saya tengguk tadi.

Tiba2 sosok itu menghilang dan saya lgsg berlari ke arah sastro dan joko.
"Kowe mau ndeloki rak? Krungu deknen ngomong rak?" Tanya saya sambil gelapan.

Sastro dan Joko menggeleng. "Ngomong opo to? Lha ndi wonge? Entes wae ono to mau ning sebelahmu? Meh tak parani padahal" (ngomong apa sih? Mana orangnya? Tadi di sebelahmu kan? Mau aku samperin kalian) "Ojo2 dhemit, hiiii" (jangan2 hantu, hiii) ujar Joko bergidik.

Lalu dengan sangat jelas..kami bertiga melihat sosok laki2 tadi berdiri di sebelah pohon yang sangat besar.
Sosok itu melambaikan tangan ke kami dan saya menangkap suara yg tidak tau datang dari mana seperti "Mas...lewat sini"

Ujar suara itu..

.
.
Saya dan kedua teman saya masih terpaku dan ragu2 untuk berjalan maju ke depan.

Lalu "Mas, lewat sini"

Suara itu kembali muncul.

Saya dan kedua teman saya memberanikan berjalan menuju sosok itu. "Lewat sini, jangan lewat yang situ"
Sosok itu sambil merentangkan tangan menunjuk sisi kanan pohon.

Saat kamu mendekati dengan langkah pendek2, antara merinding takut dan merinding kedinginan, kami menuju pohon yang daunya sangat rimbun hingga seperti menutupi langit2, membuat pencahayaan semakin gelap, mendekati pohon itu lalu saya menangkap suara lagi, "Lewat saja jangan liat keatas, nanti kamu gak bisa pulang"

Ternyata kedua teman saya juga mendengar. Karena saking penasarannya si Joko sempat melirik keatas dan dalam sekejab dia menahan teriak namun sempat saya dengar lirihannya "Ya Allah! Astaghfirullah!" Sambil trus berjalan maju dan menunduk melewati pohon, lalu.. Suasana cerah menyambut kami saat kami mendongakkan kepala.
Kami melirik kebelakang.

Rerimbunan pohon dengan sedikit kabut.
Kami mendengar sayup suara adzan subuh.
Kami bertiga gemetar mengucap Alhamdulillah.. lalu kami berjalan lurus ke depan.
Sampai bertemu gerombolan pendaki yang sedang beristirahat di tenda mereka.

Kami terlalu capek sehingga memutuskan untuk mendirikan tenda tidak jauh dari gerombolan pendaki itu.

Kami bertiga tidak banyak bicara. Antara shock atau kecapaian, entahlah.. kami memejamkan mata sejenak.
Saat sinar matahari terasa agak panas, kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan.

Dari arah turunan, kami melihat ada bapak2 sedang mengangkut ranting2 kayu.

Kami kemudian bertanya, "Pak arah ke Kopeng lewat mana ya pak?" Bapak tersebut menjawab "Oh, cedak mas! Cuma setengah kilo..jalan aja lewat sana" "Terimakasih pak"

Kami melanjutkan perjalanan bertemu dengan sebuah desa bernama Genikan.

Kami rasa bapak tersebut salah perhitungan karena yang beliau bilang setengah km berasa ber km km.

Keluar dari desa kearah Kopeng. Kami melihat warung sederhana. Kami memutuskan untuk beristirahat, makan dan ngopi

Sepi sekali hari Minggu waktu itu.

Saya bertanya kepada pemilik warung. "Pak, minggu kok sepi njih?" Lalu wajah bapak itu terlihat kaget..


.
.
Bapak tersebut sempat takjub mendengar pertanyaan saya. "Hah? Minggu mas ? Niki dinten Senin niku mas". Kami bertiga kaget dan saling berpandangan... Senin???? Bukannya kami cuma mendaki satu hari???? Dari sabtu pagi?! Jadi?.. Joko pun membuka suara. "Pas aku lirik ke atas, pas ituu..kejadian itu.. kalian tau ada apa?" Saya dan sastro menggeleng. "Ada mahkluk tinggi besar, berbulu, mata merah menyala dan gigi seperti gading gajah, menyeringai..." .
.
.
Karena pemilik warung mendengar percakapan kami, beliaupun bertanya"Berarti mas-masnya naik dari Sabtu trus rasa2nya cuma sehari disana?" Kami menganggukan kepala lalu bercerita dari awal. "Mungkin sosok itu jin tiruan dr anak muda yang dulu kesasar saat mendaki mas. Jasadnya ditemukan beberapa hari kemudian di jurang"

Astaghfirullah..terjawab sudah.

Sosok jin yang menyerupai sosok pemuda yg dulu tewas saat mendaki itulah yang menunjukan jalan pulang untuk kami...
Mungkin supaya kami tidak bernasib sama sepertinya... Wallahu'alam.

Kami pamit dan menuju jalan besar.

Saat kami menumpang bus kembali ke Semarang. Saya melihat anak2 SD berjalan bergerombolan masih memakai seragam merah putih.

Ya benar, saat itu adalah benar hari Senin. Dan benar, saya dan dua teman saya sempat "tersesat" lebih dari satu hari di Gunung Merbabu.

Kami tidak tahu apa yang akan terjadi jika sosok jin "baik hati" itu tidak muncul untuk menolong kami. Entahlah.. Yang jelas. Hingga saat ini pengalaman tersebut sangat membekas. -Tamat-

Sumber: @mwv.mystic (IG)

Demikianlah cerita misteri nyata dengan judul Kisah Kelamku di Merbabu.

Salam Untukmu di Gunung Sindoro

Perkenalkan saya Adhi, sebelumnya saya pernah membagikan kisah mistis saat mendaki Gn Merbabu. Kali ini saya coba berbagi cerita saat mendaki Gunung Sindoro yang terletak di kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah.
Salam Untukmu di Gunung Sindoro


Kisah ini terjadi saat ketiga kalinya saya mendaki gunung Sindoro Tepatnya 14 tahun yg lalu, suasana pendakian di tahun2 tersebut tentu jauh berbeda dari suasana tahun2 belakangan ini.

Di pendakian Sindoro yg ketiga ini saya membawa cukup banyak teman, jumlah kami 10 orang termasuk saya. Sastro dan Joko dari kisah sebelumnya juga berangkat. Ada 3 mahasiswi Mapala yg ikut saat itu. Salah satunya sebut saja Lesti.
.
.
Kami berangkat pagi hari dari Semarang menumpang bus jurusan Magelang dan di lanjut lagi dengan jurusan Wonosobo turun di Desa Kledung.

Seperti biasa, setibanya di Basecamp Kledung kami melakukan pendaftaran, persiapan dan ISOMA. Kami baru berangkat mendaki setelah sholat Maghrib.
.
.
Dari basecamp ke POS 1 memakan waktu cukup lama hampir 1 jam jalan kaki. Saya berjalan paling belakang mengawal rombongan ditemani Lesti dan Ani, yg juga mahasiswi anggota Mapala. Melewati perkebunan warga, Lesti dan Ani berjalan mendahului saya. Pandangan saya menatap sosok laki2 tua dipinggir kebun tampak sedang beres2.
Saya pun menyapa "Nuwun sewu (permisi) pak, malam2 masih dikebun?"
.
.
Si bapak menengok ke arah saya , "Oalah ini mas, baru selesai beres2 bentar lagi pulang, mau naik ya mas? yowis, hati2 yaa..permisi.." Si bapak pamit sambil melayakan senter.
"Monggo pak" jawab saya.
.
.
Sastro tiba2 mendekati saya, "Monggo apa, Dhi? Ngomong sama siapa?" tanya Sastro. Saya menengok kebelakang, bapak yang tadi sudah tidak ada. Cepat sekali jalannya, pikir saya. "Oh, ngga apa2. Nanti aja, yok ah!" ajak saya. Sepertinya bapak yang tadi...ah sudahlah, pikir saya.
.
.
Singkat cerita, kami tiba di Pos 1 dan lanjut ke Pos 2. Track dari Pos 1 ke Pos 2 cukup berkelok-kelok, didonimasi dengan tanah landai dan bebatuan yang cukup besar. Sampai di Pos 2 kami berhenti sambil minum sebentar. Saya duduk selonjor, tas saya lepas dan saya taruh di samping.
Setelah beberapa saat, "Ayo Dhi, lanjut!" ajak teman saya.
.
.
.
Saya mengangguk, meraih tas carrier dan melanjutkan perjalanan. Saya melihat Lesti berjalan pelan dan ngos-ngosan, lalu saya putuskan untuk menemaninya berjalan, khawatir kalau terjadi apa2. Dari Pos 2 kami lanjut ke Pos 3.
Saya mulai merasa agak kepayahan disini, punggung terasa pegal sekali seperti tas carrier saya jadi berat 3x lipat sampai saya berjalan agak membungkuk. Rombongan sudah beberapa meter di depan saya, posisi saya dibelakang sendiri.

Lalu dari depan salah seorang teman saya memanggil "Woi, lama amat Dhi!" "Udah kalian jalan aja dulu, aku nemenin Lesti nih!" jawabku, padahal alasannya juga karena tas carrier saya tiba2 menjadi tambah berat. "Oke, ketemu di tempat biasa yo!" "Yoi" jawab saya. Tempat itu adalah tempat biasa kami mendirikan tenda di Pos 3. "Lah..Mas Adhi juga ngos2an gitu, berenti bentar gimana mas?" tanya Lesti sesaat setelah rombongan kami mendahului ke depan.

Saya mengangguk, lalu melepas tas carrier saya, lalu saya coba angkat lagi. "Lah? Kok jadi biasa lagi beratnya?" bathin saya. Saya angkat2 tas carrier ini dengan tangan seperti sedang latihan barbel.. biasa beratnya, kayak pertama berangkat tadi...
Saya pakai kembali tas carrier itu, tiba2 menjadi tambah berat lagi. Seperti ketambahan muatan. "Ada yg ngga beres" pikir saya. "Kenapa mas tasnya?" tanya Lesti.
Karena tidak mau membuat si Lesti ini panik atau jadi ikut mikir yang engga2, saya menggeleng dan ajak dia ngobrol santai.

Track yang menanjak, berbatu, tas carrier yang tiba2 tambah berat, ditambah ngawal si Lesti membuat punggung saya linu. "Hmm..kayak ada yang nempel di punggung. Tolong jangan ganggu, kami ngga macem2 deh." bathin saya. Kalo orang Jawa bilang "nyambat", numpang2 sama yang "nunggu: gunung ini. Tapi tetap saja, punggung saya seperti "ditempeli" sesuatu yang berat.
Rombongan kami sampai sudah tidak terlihat lagi, cuma ada saya, Lesti dan nyala senter kami.
.
Sesampainya di Pos 3, saya melihat teman saya Joko dan Sastro lesehan di depan tenda.
"Eh pak, lama amat, encok ya?" goda si Joko.
"Gundhulmu" jawabku.

Saya lalu bertanya ke Lesti,
"Les, jangan tersinggung yo. Aku mau nanya, maaf2 yo, kamu sedang halangan, ndak?"..
.
.
Lesti tampak kaget.
"Ngga lah mas, mana berani aku lagi halangan naik gunung" jawabnya.
"Lha napa to mas?" tanyanya.
Aku jawab, "Ya ndak, kok keliatannya kamu lemes banget tadi" "Oh..aku emang agak capek mas, sebelum berangkat kan ngejar deadline tugas2 di kampus" "Oalah" jawabku sambil mengangguk.

Padahal sebenarnya, saya tanya karena penasaran, kenapa saya "diganggu" dengan tas carrier yg tiba2 jadi berat sekali saat mendaki tadi.

Saya memasak air dgn kompor gas mini portable milik Lesti untuk nyeduh kopi dan masak mie instan.
Sambil menunggu air matang, saya lepas sepatu, duduk selonjor sambil merokok. Sebatang habis, saya perhatian air mulai mendidih, saya ambil gelas yg sudah saya isi kopi, lalu saya tuangkan air dari panci itu.

Tiba2, air yang mendidih tadi berubah dingin begitu masuk ke gelas. Bukan dingin seperti es tp dingin seperti air itu tidak pernah dimasak!. "Kok aneh?" bathin saya. Saya celupkan jari ke gelas, benar adem airnya! Padahal tadi mendidih!. Saya menengok dan memperhatikan sekitar, teman2 sudah masuk ke tenda2 mereka, cuma saya sendiri di luar.
"Jangan panik...jangan panik.." bathin saya, saya nyalakan rokok lagi sambil jalan mondar-mandir di depan tenda. Sastro dan Joko teman saya keluar, "Ngapain, Dhi? udah mateng airnya?" Saya jawab , "Belum. bentar lagi..". Lalu Joko bertanya "Ada yg aneh?" . Saya menggeleng karena tidak mau membuat panik
"Aku 1, Sastro 1 trus nambah 2 buat yang lain yoo.. sisanya udah makan biskuit sama roti", disini maksudnya dia mau nitip bikin mie instan. "Woo.. penak men uripmu cah.. masak dewe! Lhapo warung.. (woo enak banget kamu, masak sendiri! Kamu kira warung)" omel saya, Joko cuma cengengesan.

Lalu dia main kartu sambil ditemani anak2 lain yang ikut keluar tenda. Saya nyalakan kompor lagi. Beberapa saat air itu mendidih, saya angkat panci, lalu iseng saya celupkan ujung kuku saya ke dalam air, adem airnya! padahal beneran mendidih tadi, sumpah! Wah..ngga beres ini! gumam saya. Saya coba taruh panci itu di atas kompor, mendidih lagi, saat saya celupkan jari saya lagi, adem airnya!
.
Karena jengkel dan perut lapar, saya menggerutu, "nganggu bener! udah numpang2 kan tadi, capek ni ah!"
.
.
Lalu.. Ngga lama, sekitar beberapa meter dari tempat saya masak, muncul sosok perempuan dari balik rimbunan pohon. Pake putih2, rambut panjang awut-awutan?? Tidak. Perempuan biasa, pake jaket, topi kupluk, sepatu, pokoknya atribut pendaki dan jelas sekali sosoknya sampai saya bisa melihat merk kupluk yang dia pake, merk E.
Dia memandangi saya, saya pandangi dia, kita pandang2an. Romantis? Nggak! karena ni cewek tanpa ekspresi muka, wajahnya putih pucat dan mari pakai logika, dia tiba2 muncul dari balik pohon dan tenda pendaki lain ada kurang lebih 10 meter dari kami. "Aduh sial, mulai lagi nih" bathin saya. Yg saya maksud "mulai" ini adl mulai lagi ketemu yg mistis2. Oh iya, intermezzo sebentar, saya termasuk orang sensitif dengan yg gaib2. Saya sering melihat sosok "mereka" namun tidak bisa dibilang saya indigo. Ayah saya dan adek2 saya juga seperti ini. Apa ini semacam keturunan? Wallahu a'lam, mungkin ada mwvers yg bernasib sama.

Saya usap muka saya, lalu saya lihat lagi sosok itu masih ada dan melihat ke saya! Lalu tiba2, sosok itu melotot sambil tersenyum menyeringai. Coba bayangkan, melotot tp meringis, menyeringai!.
"Astagfirullah!" Kaget dan refleks saya lempar sepatu saya ke arah sosok itu, dan..dia menghilang!
Teman-teman yang tadi main kartu diluar tenda menghampiri saya rame2. "Dhi! kenapa woi?" "Asem, digangguin tadi!" ujar saya "Wah meden2i cah iki (wah nakut2in ni anak). Trs setannya udah pergi?" Raut mereka macam2, ada yg tegang, celingak celinguk dan ketakutan.

Saya mengangguk sambil setengah lari saya ambil sepatu yg saya lempar tadi. "Jadi gimana nih? Pindah aja?" tanya Sastro. "Ngga usah, kayaknya cuma aku aja yang diganggu, kalian masuk aja", kataku.
Niat untuk menyeduh kopi dan masak mie instant saya urungkan. Di tenda, saya mulai menceritakan apa yg saya alami dari awal.

Jam menunjukan sekitar jam3 pagi saat saya dan rombongan bangun dan bersiap2 untuk lanjut ke pos IV dan terakhir, puncak. Pemandangan kawah Gn.Sindoro sangat bagus membuat saya sedikit lupa dengan kejadian semalam.

Menjelang tengah hari, saya dan rombongan memutuskan untuk turun. Di jalan, kami berpapasan dengan 4 pendaki asal Jakarta...
.
.
Mereka menyapa kami, lalu salah satu dari mereka bertanya ke saya, Sebut saja dia si A. "Udah pernah kesini sebelumnya, kak?" tanya si A "Sudah 3x ini mas" Jawab saya. Lalu salah satu lagi, sebut saja B bertanya, "Semalam itu ada apa kak? Di gangguin sama makhluk halus ya?" Saya kaget, "Kok kamu tau?" tanya saya. "Kan seberang kakak itu tenda kami, pas kami denger ribut2, saya sempet nguping sih" "Oh iya, saya digangguin dari Pos 2 mas, dari tas tiba2 tambah berat, masak air sampe mendidih begitu dituang mendadak jadi adem, yang terakhir itu liat sosok perempuan mas, kayaknya dulu dia pendaki, pake atribut lengkap" cerita saya.

Lalu, "Boleh kami di ceritain ciri2nya kak?" tanya A.
Sebelum saya bicara, salah satu teman saya memanggil, "Dhi, ayo!" "Kalian duluan saja, nanti aku susul" jawabku. "Oke sip" , lalu rombongan saya berjalan medahului saya.

Jadilah saya berlima dengan rombongan dari Jakarta ini. "Jadi, sosok ini rambutnya lurus panjang, ngga terlalu tinggi, sekitar 160an, pake jaket merah sama topi kupluk warna biru" cerita saya.

Lalu mereka menghentikan langkah, raut mereka sedikit kaget. Si A mengeluarkan dompetnya dan mengambil secarik foto dengan banyak wajah. "Kayak cewek ini kak?" dia menunjuk salah satu wajah disana.
Saya perhatikan betul2. Ah iya! persis ini.
"Lho, kalian kenal?" tanya saya."Dia teman kami kak". Lalu si A menjelaskan.

Rupanya gadis itu adalah temannya, sebut saja C. Dua tahun lalu, dia mendaki Gn. Sindoro bersama rombongan teman2 dari pacarnya. Lalu ada sebuah tragedi. Rupanya, salah seorang gadis yg ikut dalam rombongan, diam2 menyukai pacar si C sebut saja dia si D. Ditengah pendakian, D dan C beradu argumen, lalu D dengan sengaja menyenggol bahu C yg menyebabkan C hilang keseimbangan lalu terjatuh di tanjakan dan kepalanya terantuk batu. Sayangnya, si C meninggal seketika..
.

Lalu jasad C dibawa pulang oleh orang tuanya. Sejak itu pacar si C dan D seolah menghilang, orang tua C pun tidak melanjutkan kasus tsb ke ranah hukum.

Dua tahun setelah kejadian, teman-teman Mapala dari kampus C berinisiatif untuk mendaki Gn.Sindoro dalam rangka mengenang kepergian si C...
.
.
"Rencananya kami ingin meletakkan ini, kak", si A mengeluarkan plat marmer kecil dari carriernya. Bertuliskan In Memoriam... (nama si C). "Bisa minta tolong antar kami ke lokasi tempat pertama kakak merasa punggungnya ditempeli sesuatu yg berat?" tanya A.
Saya mengangguk, walaupun jujur awalnya sulit untuk saya mengerti. Semua serba aneh, serba kebetulan, akal sehat saya susah mencerna keadaan waktu itu.

Kami pun menuruni medan yang cukup licin berbatu, lalu saya menunjuk area dimana saya merasakan seperti "menggendhong" sesuatu. "Disana, mas" tunjuk saya.
Lalu rombangan pemuda tsb berdiskusi dengan suara yg pelan, saya pun kurang bisa mendengar jelas waktu itu.

Lalu, "Terimakasih kak, saya letakkan disini, kami rasa disinilah C dulu meninggal" kata si A. Tampaknya mereka meletakkan plat itu di bawah rerimbunan rumput dan tertutup dengan batu2.

Kemudian saya pamit, menyusul rombongan saya yang mungkin sudah jauh di depan.
Selama perjalanan turun, saya masih bertanya2, apa ini semua kenyataan? namun foto yang ditunjukan si A dengan sosok yang saya lihat sangat mirip.

Saya kurang tahu, saya hanya menceritakan apa yang A ceritakan pada saya saat itu. Bahwa temannya si C meninggal dengan cara seperti itu. Dan kejadian di Pos 3 itupun benar nyata terjadi pada saya, hingga masih saya ingat sampai sekarang.

Pelajaran ini membuat saya lebih berhati-hati lagi saat mendaki. Walaupun sering melihat dan mengalami kejadian mistis, hal itu tidak menyurutkan keinginan saya untuk mendaki lagi.

Salam lestari!

Tamat.

Sumber: @mwv.mystic (IG)

Tuesday, December 5, 2017

Si Noni Belanda

Aku mau cerita tentang taman tua di dekat SDN 1 Sambirejo , SD saya dulu..
Si Noni Belanda


Disana, ada taman kecil yang bersebelahan sama lahan kosong yang banyak di tumbuhin rumput liar . Istilahnya diapit sama gedung sekolahan sama lahan itu..
Taman itu gimana ya, kayak forbidden gitu, .. di kelilingi seng setinggi satu meter dan kawat duri.

Waktu masih bocah banget , kelas 1 sampe 4 emang ane gabisa ngintip ke Dalem tu Taman krn msh boncel .. nah pas masuk kelas 5 , ane udah bisa ngelongok ke dlmnya
.
Didalemnya ya standar, Cuma rumput tinggi , bangku semen memanjang dan tiga buah ayunan dari ban bekas .. intinya, gada yang spesial Lah .. gak jelas banget kenapa bisa di sebut Taman.. tapi dibalik itu, ada sosok terkenal yg menunggui taman itu..
.
Kata orang sekitar, sering banget keliatan noni kecil maen ayunan , hampir setiap malem disana. Ane sendiri belom pernah liat dan ane gak ada nafsu pengen ngebuktiin Kata orang orang itu..
Menurut orang yang pernah ngeliat , noni itu rambutnya putih bergelombang.. Pake gaun putih mekar dan topi lebar.. yang bikin miris, adalah gmana awalnya si noni bisa ada disana...
.
.
Konon dlu si noni kecil suka ikut bapaknya ke sekolah.. Dia akrab banget sama siswa2 SLB yang kebanyakan anak petinggi PKI yang markasnya emang di kotaku.. walaupun beda ras, dia tetep gabung ama anak2 pribumi..
Tapi diluar dugaan.. hal itu mmbawa petaka, Entah gimana , ada orang tua siswa yg gak suka liat keakraban anaknya Sama si noni , kemungkinan cemburu ngeliat noni yang cantik Dan fisiknya sempurna, sedangkan anakny sendiri cacat fisik Dan keterbelakangan mental..

Dengan teganya, ibu siswa SLB td ngebunuh si noni dengan cara ngedorong ayunan keras keras sampai noni itu terjerembab Dan mati seketika..

Bapaknya si noni sedih bukan main,dgn kalap Dia mageri Taman pake kawat duri yang melukai tangannya sendiri.. harapannya agar roh anaknya bisa main sendirian tanpa dicelakai org lg.. Dia gak ngebolehin satu orangpun masuk ke Taman itu.

Ane denger juga , ITU dulu ayunan dari kayu.. Tapi ada orang yang ngeganti dengan ban bekas Sama rantai gara2 mulai rapuh..
Kemunculan si noni? Hampir tiap malem sampe warga sekitar terbiasa..
Tamat.

Sumber: mwv.mystic (IG)

Cerita kiriman @mezbah540 (IG)

Wednesday, November 29, 2017

HEI SENDIRIAN AJA? BERGABUNGLAH KESINI

Tags
Hai salam kenal..
Aku indigo, aku bisa tau dan ngerasa keberadaan "mereka" yang ada disekitar aku secara sadar.. dan aku udah cukup terbiasa dengan hal ini..
Sebelumnya disini nama-namanya di samarkan ya karena ini pribadi dan membekas banget di ingatan temen aku dan aku..
HEI SENDIRIAN AJA? BERGABUNGLAH KESINI


Kejadiannya pada bulan Oktober lalu, pas malam kamis.. saat itu aku udah tidur, sampai akhirnya dibangunkan oleh suara panggilan masuk di handphone aku.
Pas aku angkat, ternyata telepon dari ibu yg ngabarin kalo abah (bapak) aku masuk rumah sakit dan aku mesti kesana soalnya ibu aku mau urus administrasinya dulu.
Tanpa pikir panjang, aku langsung siap-siap terus berangkat ke RS yg dimaksud.

Sesampainya disana, aku liat abah udah terbaring di IGD dengan kabel-kabel yang di pasang di dadanya, ada suara pendeteksi detak jantung juga. Gak ada yg bisa aku lakukan keculai nemenin abah.. akhirnya gw duduk di sebelah abah.
Gak lama, ibu datang bawa surat-surat sambil ngomong ke abah yang lagi merem.

"Sabar ya pak ini kita mau masuk ke ruangan" ucap ibu.

Di situ ibu aku ngomel tapi lemah lembut karena abah ini emang susah di kasih tau kalo lagi sehat.
Dan ini bukan pertama kalinya abah masuk RS tapi udah puluhan kali sampe tu penjaga ICCU hafal sama abah.

Setelah nunggu beberapa saat, abah dibawa ke ruangan ICCU. Namun ruangan ICCU tidak boleh dimasuki selain pasien dan tenaga medis, bahkan untuk sekedar menemani jaga malam pun dilarang. Jadinya aku nunggu diluar sementara ibu masuk sebentar ke dalam untuk membawakan baju Abah lalu keluar lagi.
Pas ibu keluar dari dalam, ibu minta tolong ke aku untuk jagain abah soalnya ibu mau urus adek (adek tiri) aku. Aku pun mengangguk tanda mengiyakan permintaan tersebut.

Pas ibu aku pulang aku duduk di depan ruang tunggu soalnya di dalam penuh..
Diluar sini ada 3 orang...  Aku ,cowok 1,sama cewek 1.

Cowok : hey.. Nunggu siapa?
Aku : abah(bapak)
Cowok : oh sakit apa?
Aku : jantung.
Cowok : ohh.. aku miko.. Nama kamu siapa?
Aku : aku rara.. Lo jagain siapa?
Miko : mama
Gw : sakit apa?
Miko : gula.
Dan kita ngobrol ringan.
Karena aku penasaran aku tegur lah cewek  di pojokan itu
Aku : hey... Sendirian di situ,gabung sini yuk!




Gw : hey... Sendirian di situ,gabung sini yuk!
Miko : aku udah ajak ngobrol dari tadi jawabnya garing banget..
Aku : dia malu kali.
Akhirnya aku samperin tuh cewek.
Aku : hay.. Nama kamu siapa,disini jaga siapa?
Cewek : jaga diri sendiri...

Aku kaget, aku fikir bercanda.
Aku : haha gokil lo, oh iya nama lo siapa?
Cewek : nanti juga lo tau.
Aku makin heran deh sama ni cewek.

Akhirnya setelah ngomong beberapa kalimat dia mau aku ajak gabung.. Akhirnya kita ngobrol bertiga sekarang.
Aku nyium ni cewek wangi banget, tapi wanginya itu gak banget, masa cewek cantik, masih muda lagi pake parfum bunga yg semerbak parah.

Pikiran indigo aku mulai lagi.. aku ngerasain ada yang aneh di sekitar aku. Karena aku udah biasa dan takut bikin temen-temen aku takut jadi aku diem aja.

Ehh tiba-tiba si miko ngomong.
Miko : eh lo wangi banget sih ce, tapi norak tau parfum lo bunga melati gini haha.

Dalam hati gw "oh jadi emang ni cewe yang wangi bunga, aku pikir karena aku indigo, ahh sok tau" hahaa.. aku keburu negatif thinking sama doi.

Si cewek diem aja.. Mukanya pucat, aku rasa dia emang lagi gak fit. jadi aku suruh tidur lah dia.
Aku: ehh lo tidur gih,muka lo pucat banget,santai aja gak akan terjadi apa-apa kok.
Aku mikirnya dia terlewat khawatir sama yang di dalam ruangan makanya sampe pucat gitu.
Akhirnya tuh cewe tidur.

Saat Jam nunjukin 01.30 si miko pamit tidur.
Sedangkan aku? Aku masih belum ngantuk.
Akhirnya karena tinggal sendiri gak ada temen ngobrol jam 02.00 aku juga ketiduran.



"Ra..rara bangun" suara ibuku bangunin
Aku : emm iya bu
Ibu : kamu kuliah pagi kan? Pulang aja ibu yang jaga di sini.
Aku : iya bu.
Terus ibu masuk kedalam ruang tunggu.
Posisi aku tidur di luar ruang tunggu ya karena penuh di dalem.
Aku lihat si miko udah bangun.
Aku : udah bangun lo.
Miko : iya, udah dari tadi malah.
Aku senyum doang, soalnya nyawa aku masih belum kumpul.
Miko negur aku lagi : cewek semalam mana ya?
Aku : mana aku tau, aku baru bangun kali.
Miko : ehh iya ya hahaha.

Gw siap-siap mau pulang terus ada cahaya kaya kilat tapi bukan, kaya kamera hp, tapi aku lihat sekeliling juga ada yang lagi foto-foto.
Miko : apa itu,kilat kah?
Gw : gatau ihh
Miko : kalau kilat nggak mungkin cuma di sini aja deh...




Akhirnya aku pamit sama miko dan pulang ke rumah.
Kuliahku selesai jam 10.00 pagi. Aku pulang kerumah ganti baju terus ke RS lagi.
Gantian jaga sama ibu aku karena ibu aku ngurusin adek aku pulang sekolah.

Aku ketemu miko lagi, aku lihat muka dia pucat banget, akhirnya aku tegur dia.
Aku : heyy.  Kenapa lo?
Miko langsung narik aku.
Miko : llll...lo..lo tau g Gak (sambil tergagap)
Aku : gak tau,apaan?
Miko : cahaya tadi subuh
Aku : iya emang kenapa?
Dalam hati aku "pasti mau lebay deh nih"
Miko : aku udah firasat.. ternyata bener ada yang meninggal gak lama lo balik!
Aku : oh ya? Yang mana?
Muka si miko tambah pucat,dia berkeringat gitu.
Aku : woyy lo kenapa sih?

Miko : yang meninggal itu cewek yang semalam ngobrol bareng kita..

Aku : hah ! Dia kenapa? Kecelakaan?
Miko : gak kecelakaan,dia emang udah di rawat 2 hari di dalem.  Baru meninggal tadi subuh!

Aku langsung diem, asli aku kaget campur takut. Kenapa? Karena aku ngobrol bahkan nyentuh roh orang yang lagi koma dan aku gak tau. Parah !

Aku : lo bohong ya?
Miko : sumpah demi tuhan aku serius, aku lihat dengan mata kepala aku sendiri muka dia waktu keluar dari ruangan.
Aku : lo tau namanya?
Miko : namanya nina.
Aku : dia sakit apa?
Miko : katanya sih minum racun,mau bunuh diri gitu.

Asli di situ aku langsung gelabakan, baru kali ini aku ketakutan.

Telepon aku bunyi dari ibu aku ngabarin kalo aku di suruh jaga sampai sore.
Terus gw nanya.
Aku : bu semalam sebelum ibu pulang ibu ada liat cewe gak duduk di pojokan?
Ibu : gak ada,ibu cuma liat anak cowok... Kenapa?
Aku : gapapa bu. yaudah bu.

Dari situ aku tambah takut dan gemetaran.
Gw tanya si miko : lo kok bisa liat dia juga?
Dan ternyata si miko ini indigo juga!
Akhirnya kami hanya terdiam disana..

Malamnya sekitar jam 02.00 aku kebelet pengen buang air kecil. Pas  aku mau masuk ke toilet aku liat Nina lagi senyum ke aku di dekat pintu.

Aku ngurungkan niat aku buat buang air, aku langsung narik selimut terus nutupin badan aku.

Aku trauma tapi lebih trauma lagi miko karena dia yang liat langsung.

Intinya hati-hati aja kalo kenalan sama orang, gerak geriknya beda mending tinggalin ajadeh dari pada terjadi hal-hal yang gak di inginkan.
Untungnya aku gak sampe kesana.
tamat.

Sumber : @mwv.mystic (IG)
True Story dari narasumber : -

Tuesday, November 28, 2017

Keanehan di Tol Cipali

Narasumber pernah bocorin ceritanya ke sebuah radio, jadi jika ada yang merasa pernah mendengar atau membaca ini, maka itu wajar.
Keanehan di Tol Cipali


Namaku Gina, apa yang akan kalian baca ini terjadi pada hari Minggu 13 Oktober 2016 silam.
Aku tidak tau harus memulai cerita dari mana, namun dengan apa yang terjadi padaku, sejak peristiwa terjadi, hingga kini masih menimbulkan trauma bagiku danan kedua temanku
(Mala & Naura) untuk review berkendara melewati tol cipali dimalam hari ..

Kejadiannya berawal dari Cirebon, kota tempat dimana keluargaku banyak tinggal, yap kota udang / berintan itu sebutannya, kami berangkat pagi hari dari bandung, sesampainya disana kami bercanda, kuliner, seminyak tempat sejarah selayaknya seseorang yg sedang berwisata, aku menjadi tourguide untuk kedua orang temanku, ini bukan pertama kalinya kami bertiga kesini, sudah beberapa kali aku mengajak mereka kesini.

Hari sudah mulai sakit, perut kami sudah mulai keroncongan lagi walaupun jujur ​​kami sudah banyak berwisata kuliner disini.

Aku: lebah (sebutan kami) udah laper lagi belum? .
Sontak Mala & Naura menjawab: "iya"

Aku: makan yuk! makan apa kita.

Naura: gimana kalo makan ikan yang di kuningan itu lagi?
(Dulu aku sempat mengajak mereka makan ikan di tempat aku biasa dengan keluarga ku akhir pekan).

Aku & mala: yaudah ayo jalan nanti keburu malem lama di jalan.

Sepanjang perjalanan ke tempat makan selama 45 menit, kondisi kami baik-baik saja, sampai di tempat makan pun kami masih ceria, sehabis makan kami rehat sesaat karena kekenyangan, aku tidur-tiduran dulu sekalian menunggu adzhan maghrib.

Mala: yuk berangkat udah selesai makannya kan?
(Dia agaknya mengajak kita buru2 karna dia yang menyetir, kami rencana dari bandung ke cirebon ke jakarta mengantar temanku Naura pulang untuk kembali dia bekerja esok hari).

Aku: jangan buru2 lah tunggu maghrib dulu pamali kalo kata orang sunda sareupna!

Mala: udahlah ayo berangkat.
Akhirnya kita lanjutkan perjalanan, kami melewati tol cipali ke jakarta, dalam suasana ceria walau hujan turun di sana ..

Di dalam mobil kita sibuk masing-masing, aku browsing, naura yang sibuk dengan musik-musiknya & Mala yang fokus menyetir, sampai pada akhirnya tiba-tiba ada suara dengan suara keras. DUUAKK !! KREEEK !!! (suara mobil menabrak sesuatu & suara tulang terpatahkan di sebelah kiriku dan itu sangat jelas). Kejadiannya terlalu cepat, seingatku mobil oleng ke kanan hampir terperosok ke pertengahan tanah pembatas jalan, karna tol cipali tidak ada beton pembatas antara arah kanan & kiri, mobil kami kehilangan kendali dan terbentur. Aku teriak menyadarkan Mala untuk kembali memegang kendali setir agar tetap pada jalurnya.

Alhamdulillah mobil sukses di kendalikan, sontak kami bertiga memutuskan untuk berhenti kepinggir jalan tidak jauh dari posisi kejadian yang kami rasakan ada "sesuatu" yang tertabrak.

Aku: tadi itu kenapa? Apa yang di tabrak? Ada sesuatu kan?.

Mala: iya ada, aku lihat kita tabrak anjing, tapi anjingnya aneh dari jauh tidak ada tidak kelihatan, tiba-tiba dia udah ada di samping kiri, Jadi ketabrak ..

Kami melihat ke belakang untuk memastikan apa yang kami tabrak .. pasti jika ada sesuatu seperti anjing yang mala ceritakan, mobil yang lalu lalang di belakang kami pasti akan agak terganggu perjalanannya karena menggilas anjing ini, tapi .... tidak ada !! Semua mobil yang melewati jalan dimana kita merasa menabrak sesuatu itu lancar, mobil-mobil itu jalan dengan lancarnya memang tidak ada apapun yang mereka laju mereka.

Aku ingin turun untuk memastikan tapi apa daya aku perempuan, kami bertiga perempuan takut turun di jalan tol yang gelap, temanku Naura sibuk ingin menyampaikan sesuatu kepada aku & mala.

Naura: bee aku mau ngomong sesuatu tapi aku pindah dulu kedepan bee !! (Dengan sedikit memaksakan diri dia pindah kedepan, duduk di tengah jadi kita di depan bertiga).

Aku: bee tenang dulu ada apa? Kita bisa ngomong baik2 nanti, duduk baik-baik dululah, jangan kaya begini ga jelas, kataku pada Naura. Temanku Mala tidak bisa bicara apapun mungkin dia shock, akupun gemetaran dengan keanehan yang terjadi tapi Naura tidak mendengarkanku, dia tetap ngotot ingin duduk di tengah .. kamu mau ngomong apa? ..

Melihat situasi disini tidak kondusif, Kami urungkan perjalanan dan akan berhenti di tempat istirahat terdekat nanti, untuk membahas kejadian tadi. Sebelum melaju aku menganjurkan Mala melempar koin tapi kami bertiga tidak ada yang melihat kebelakang sampai rest area. (Orang tua dulu sering bilang kalau ada apa2 di jalan lempar koin, ya percaya tidak percaya sih).

Selama perjalanan kita diam tak bicara sepatah katapun sambil mendengarkan ayat-ayat suci Al-Qur'an, karena aku berinisiatif medengarkan ayat itu agar tenang hati & fikiran kami. Sesampainya di rest area, kami melihat balik tapi tidak ada petunjuk di kilometer berapa kita sekarang. Kemudian aku bertanya kepada keamanan di sana ..

Aku: pak maaf mau tanya kalo ini daerah istirahat KM berapa ya?

Keamanan: iya neng, ini di KM 130. ada apa neng?.

Aku: tidak ada apa2 pak, cuman mau tanya aja, nuhun pak (dalam hatiku hari ini minggu tgl 13, kejadian tadi tidak jauh dari km. 130 ini, kami berangkat waktu maghrib apa ada yang salah ??).

Kemudian aku menghampiri Mala dan Naura, mereka sedang sedang menanti sesuatu yang sedang membenci saat ini menabrak.

Mala: ga ada apa2 bee kalo tadi betulan anjing yang tertabrak setidaknya ada baret di depan atau darah!  kerasa keras banget benturan sama suara patah
Aku & Naura terdiam.

Aku: oiya bee tadi di jalan makanya pindah kedepan ada apa? Ada yang mau di omongin? (tanyaku pada Naura)

Naura: Tadi pas kejadian oleng aku kan lagi liat layar hp, terus pas sadar liat kesamping, ada cewek duduk di sebelah aku ... tangannya mengangin pundak Mala kaya mau nyekik gitu bee .., Makanya aku cepet2 kedepan ...

Aku & Mala saling bertatapan, bulu kuduku berdiri semua, aku berinisiatif mendekat dengan mobil sambil sambil pembicaraan Naura yang jelas semakin membuat kita takut, saat aku liat kap lampu depan ada sesuatu yang berbentuk kupu-kupu masih hidup tertempel di kap lampunya (aneh lampu nyala panas, hujan deras kok bisa ini hewan nempel kering hidup) aku hanya bergumam tanpa aku beritahu kedua temanku akan hal ini ..

Kami rehat, membeli kopi dan coba balik ingatan tadi dengan sedikit ngejadi kembali perjalanan di awali dengan bismillah.

Selama perjalanan menuju Jakarta kita hanya terdiam, hanya suara deras hujan yang mengiringi kami, aku buka pembicaraan.

Aku: bee kok lampunya gelap banget?

Mala: iya emang dari berangkat lampunya lampunya segitu terangnya lagi udah pake lampu jauh.

Aku: oalah bahaya ini pelan2 aja ya jalannya.

Mala: oke, pelan yang penting selamat ya, kalo masalah sampe sih pasti sampe, yang jelas jakarta ga akan pindah ke bali kan? (Cetus mala menghangatkan suasana) sontak kami bertiga tertawa.

Alhamdulillah tol cipali kami lewati, kami lanjut menggunakan tol cikampek cuaca masih sama, hujan, tapi .. lampu mobil menyala dengan terangnya! terus di tol sebelumnya kok tau dah? Ah sudahlah Kami bertiga sepakat tidak membahas hal tadi.

Sesampainya di jakarta, kami menuju kost-an Naura, 3x kami jalan, tapi kami tidak bisa masuk ke gang kostannya .. aneh .. entah kenapa kami saling bingung gangnya mana. Bahkan GPS pun tidak berfungsi, kami parkir di pinggir jalan..kamu kami bertiga bertanya "ada apa ini? kenapa?"

Kami berdoa & memesan taxi online sesuai alamat kostan Naura lalu kami naik taksi tersebut, ya Tuhan kok selama kita muter 3x tadi ga liat puteran jalan ini, ah sudahlah.

Sampai kostan Naura, Kami rehat sebentar lalu melanjutkan perjalanan pulang ke bandung, Naura seakan tidak mau Kami tinggal, alhamdulillah perjalanan jakarta-bandung baik2 saja ...

Pagi hari aku dan mala sampai di bandung, kami istirahat & diskusi kejadian2 yang kami alami, merasa menabrak sesuatu & jelas terdengar suara patahan tulang, tapi tidak ada apa-apa? lampu mobil gelap tapi sekeluarnya dari tol itu nyala terangnya? Mencari kostan Naura 3x muter kami tidak dapat menemukan gangnya padahal Jelas gangnya ada di situ? Sudahlah, cukup yang kami alami, sebagai peringatan agar lebih berhati-hati kemanapun, dimanapun & kapanpun.

Aku &
Tamat.

Sumber : @mwv.mystic (Instagram)
Narasumber: @Angelou_inna (Instagram)

Adikku Terjebak

Aku akan menceritakan suatu kejadian yang sebenarnya sudah cukup lama terjadi, namun hingga kini masih terus membekas bagiku dan keluargaku. Mohon maaf disini aku meminta admin utk merahasiakan identitasku demi alasan pribadi.


Waktu itu adikku baru masuk SMA. Lokasi SMA ini di Bandung, lumayan terkenal angkernya karena ada pohon beringin yang tumbuh di lingkungan sekolahnya.
Katakanlah, adik aku adalah golongan mereka yg bisa ngeliat hal-hal mistis, tapi itu tidak dia dapat secara alami, melainkan akibat permintaannya kepada gulu beladirinya semasa SMP. Alhasil, adik aku bisa lihat mahluk halus sampe sekarang, meskipun adik aku minta ditutup, tapi dia tetep bisa lihat mereka..

Dikarenakan kelebihannya itu, adikku cukup menarik perhatian mahluk halus di sma-nya. Adik aku cerita, kalo hal itu mengganggu dia banget karena 'mereka' bahkan ngedatengin adikku pas lagi jam pelajaran. Aku coba tenangin dia, aku sampai print-in bacaan ayat kursi yang bisa dia bawa kemana2, jadi bisa dia baca ketika 'mereka' muncul tiba-tiba dan adik aku lagi nge-blank.

Ada satu masa yang dimana adik aku pulang nangis-nangis dari sekolahnya. Aku tanya dia kenapa, tapi dia tidak mau cerita.
Awalnya aku pikir dia di bully temen sekolahnya, tapi aku tanya temen dan sahabat bahkan pacarnya, katanya ga ada yg pernah bully dia karena di sekolah adikku ini cukup populer. Tapi anehnya, semenjak kejadian itu, adikku mulai aneh.. sifatnya total berubah... atau bahkan aku bisa bilang, mungkin dia bukan adikku. Pandangannya selalu dingin, kaya kosong tanpa ekspresi. Auranya kaya bukan mahluk hidup, selalu gelap dan ga jelas..

Biasanya kalo dirumah, aku sama keluargaku selalu kumpul di ruang keluarga buat ngobrol-ngobrol, semenjak kejadian itu, adik aku selalu menghindar.. Dia setiap pulang sekolah selalu langsung masuk kamar, kunci pintu, dan hanya keluar buat mandi dan makan doang. Dan anehnya, pernah selama seminggu, tidak ada satupun anggota keluargaku yang ngeliat adikku.. iya, ini aneh.. Dia ada, tapi kita ga pernah liat dia di rumah meskipun kondisinya adik aku ada didalem rumah.. seakan2 ada yg menghalangi kami.. entah apa...

Kamar aku dan adikku ini kebetulan berseberangan. Sejak tingkah anehnya ini muncul, setiap kali aku liat ventilasi kamar adikku, kamarnya selalu gelap..
Tiap malem, selalu ada suara orang bisik2 dari dalem kamar adikku... Bahkan pernah ada satu malem, pas aku kebangun dari tidur tengah malem, tiba2 ada adikku tiduran di samping aku. Aku kaget, trus aku tanya ke adikku..

"kamu kenapa? Apa ada masalah? Coba ceritain, kali aja aku bisa bantu.." ujarku.

Namun di situ dia cuma senyum, senyum teraneh dan paling misterius yang pernah aku lihat.. trus dia bilang "Mba itu sebenernya bisa lihat.. cuma mba-nya nolak, dan mba seharusnya jangan pernah menolak karena mereka hanya perlu temen bicara..."

Sumpah disitu aku takut banget, rasanya pengen lompat dari tempat tidur trus lari ke kamar orang tua. Adikku terus terusan senyum, dengan tatapan yg aneh menurutku, demi apapun dia bukan kaya adikku...

Tapi aku coba tenang disitu dan tanya "maksud kamu apa?"..

Adikku terus senyum dan bilang, "coba pikirin lagi karena mereka bisa bantu mba disaat mba perlu..", dan tanpa penjelasan lagi, dia pun langsung keluar dari kamarku..

Aku ceritain kejadian malam itu sama temen aku. Terus temen aku kasihin aku garem, bentuknya lebih padet dan lebih besar dari garem rumahan yang biasa dipake masak, kaya kristal gitu. Dia bilang itu bukan garem biasa dan dia sendiri udah bacain doa-doa. Dia suruh aku sebarin di setiap sudut ruangan kamar adikku, karena sekarang yang ada dirumah aku itu kata dia bukanlah adikku... Bahkan dia bilang keluarga aku bisa dalam bahaya jika ini dibiarkan... .

Sepanjang perjalanan pulang, aku mikir, adik aku bukan orang yg berbahaya. Dia itu jelas adik aku, mana mungkin dia itu ternyata orang lain??!. Akhirnya garem itu aku buang di jalan, karena aku pikir non-sense banget. Aku paling tidak percaya hal-hal yang kaya gini, dan aku yakin ada hal yg lebih logis untuk jelasin hal yang terjadi sama adikku.. mungkin dia kesulitan belajar atau ada masalah pribadi contohnya.

Pas sampai rumah, aku cerita ke ibu mengenai keanehan adikku.. dan tak diduga, ternyata ibu pun merasakan hal yang sama...

Ibuku pun menceritakan keganjilan yang ia alami sejak adikku mulai bertingkah aneh.. pas lagi masak sendirian dirumah, beliau (ibu) denger ada suara orang ngobrol dari kamar adikku. Tapi pas di cek, ternyata kamarnya terkunci... Dan saat ibuku mau balik ke dapur, pintunya tiba tiba kebuka sendiri dan dari dalem kamar ada yang bilang "..ayo kesini... ..". Ibuku karena tidak kenal dengan suara itu, lantas panik dan langsung lari keluar rumah..

Cuma mendengar cerita ibuku saja sudahdah cukup bikin aku seketika was was dan panik, sempat sesaat timbul rasa nyesel udah buang garem itu... Apa benar kalau semua ini gangguan dari makhluk halus??? Apa garam itu bisa membantu?? Tapi hanya beberapa detik, aku kembali buang pikiran itu.. aku tau kalau hal-hal kaya 'garem' itu salah, itu tidak benar. Aku tidak mau percaya dan menggantungkan hal ini sama garem doang..

Akhirnya aku mohon-mohon buat bikin acara pengajian ke orang tua. Untunglah, kedua orangtuaku mewujudkannya. Beberapa hari setelah itu, dibuatlah acara pengajian di rumah...
Saat pengajian berlangsung, adikku tidak bergabung dan memilih tetap dikamarnya. Namun selang beberapa lama setelah pengajian dimulai,, Adikkugi didalem kamar, langsung menjerit nangis2 dan keluar kamar sambil minta tolong...

Ada apa? Kenapa kamu?? Namun aku sadar.. ini adikku yang sebenarnya!.. Sambil nangis dia cerita, katanya selama ini dia diiket di pohon beringin sekolah.. dia terperangkap disana dan dirinya digantikan oleh makhluk lain.. dan Orang yg selama ini dirumahku, yang kami kira adikku, ternyata itu bukan dia, tapi sesosok laki2 yang selalu duduk di bawah pohon beringin di sekolahnya...

Keluarga aku kaget banget dengernya, dan akhirnya adikku langsung di rukiyah saat itu juga.
Jujur, sampe detik ini aku masih tidak percaya sama kejadian itu. Apalagi tentang ucapan adikku yg bilang posisinya digantikan oleh jin yang menyamar. Tapi kalo inget kejadian waktu itu yang sampe bikin adik aku hilang dari pandangan kita selama berminggu-minggu, mau tidak mau aku harus percaya. Sampai detik ini, aku selalu bawain print-an ayat kursi ke manapun adikku pergi. Bahkan pas aku ngetik ini, aku merasa ada yg mengawasiku...

Monday, November 27, 2017

Teror Perempuan Penunggu Rumah

Cerita ini berawal pada sekitar tahun 2005 ketika saya pindah kerumah tante saya yang sudah tidak dihuni selama lebih dari setahun. Saya pindah bersama ibu saya hanya berdua kala itu.... lokasinya Di daerah Katapang, Kab. Bandung.

Sebelumnya saya kasih gambaran rumah itu berbentuk seperti huruf L dan disisinya ada aula untuk berbagai kegiatan. Di tengah-tengah antara rumah dan aula tersebut ada jalan menuju wc luar yang diperuntukkan khusus untuk acara/kegiatan di aula tersebut.

Disinilah Momen pertama kali bagi saya merasakan bagaimana rasa campur aduknya ketika diganggu oleh "mereka"... Jujur, Tahun-tahun pertama menempati rumah tersebut hawanya sudah tidak enak untuk ditinggali, panas, pengap dan sedikit kotor. Saat itu thn 2007, saya baru berstatus pelajar SMP swasta disana. Kebetulan sekolah saya itu masuk siang, jadi untuk jam pulang sekitar jam setengah 6 sore dan sampai rumah sekitar jam 6an.

Hingga saat itu waktu sudah menunjukkan sekitar jam 6 lebih.. sayapun memasak air hangat untuk mandi. ketika saya sedang memasukkan air kedalam ember dikamar mandi, tiba tiba saja disebelah kiri saya tepatnya di kuping sebelah kiri terdengar suara "ssssssttttt" dengan keras sampai2 saya kaget dan melempar panci air panas tadi kedalam ember... Posisi saya pun terpojok. Terpojok dikamar mandi sambil menutup muka memakai anduk dan memanggil ibu saya yg sedang solat maghrib "ibu.. Ibu.." ucap saya lirih.. .
Untunglah, ibu saya segera menghampiri "kenapa de?" Tanya ibu. Saya menjawab "tadi ada yg ganggu ssssst kenceng banget bu"

ibu sy menjawab "yaudah cepetan mandinya, maghrib tidak baik lama2 dikamar mandi" lalu saya pun langsung mandi ditemani ibu saya yg menunggu di meja makan..

Dan ini benar2 sebuah awal sebelum rentetan teror berikutnya.. kejadian horror terus berlanjut ketika saya sedang sakit dan tidur dikamar utama yg kaca nya menghadap kekamar mandi tadi.. dan di atasnya ada toren air. Waktu itu saya ingat sedang maghrib dan saya menyalakan radio tepat diatas kasur. Namun tiba2 radio tsb mati.. saya bingung dan entah kenapa saya fokus ke pojok kanan atas tembok itu.. dan disana muncul sesosok wanita...